• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 24, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Program Kolaborasi KKP-FAO Internasional Hasilkan 32.557 Ton Pakan Mandiri

by Redaksi Asiatoday
December 23, 2019
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Program Kolaborasi KKP-FAO Internasional Hasilkan 32.557 Ton Pakan Mandiri

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Program kolaborasi yang digagas oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Food and Agriculture Organization (FAO) Internasional dalam menciptakan percontohan produksi pakan mandiri khusus Ikan Patin di Provinsi Sumatera Selatan menorehkan hasil fantastis.

Hingga November 2019, tercatat total produksi pakan mandiri secara nasional mencapai 32.557 ton. KKP menargetkan ke depan kontribusi pakan mandiri terhadap kebutuhan pakan nasional akan lebih besar lagi, dimana saat ini diperkirakan kontribusinya baru sekitar 17 persen.

“Ini hasil yang memuaskan. Formula pakan FAO memberikan respon yang baik terhadap pertumbuhan dan efisiensi produksi,” terang Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto melalui keterangan tertulisnya, Senin (23/12/2019).

RelatedPosts

IsDB Unites 78 Nations Through $6 Billion in Agreements

Indonesia’s Film Industry Trapped as a Foreign Content Market Amid Korean and Chinese Drama Surge

ADB Bets on Vanuatu’s Future with $10 Million Lifeline for Economic Transformation

Hingga November 2019, tercatat total produksi pakan mandiri secara nasional mencapai 32.557 ton. KKP menargetkan ke depan kontribusi pakan mandiri terhadap kebutuhan pakan nasional akan lebih besar lagi, dimana saat ini diperkirakan kontribusinya baru sekitar 17 persen.

Menurut Slamet, pakan mandiri saat ini memiliki kualitas yang tidak kalah jauh dengan pabrikan. Inovasi formula sudah banyak berkembang misalnya dengan penggunaan silase, enzym dan bahan baku lokal seperti Palm Kernel Meal (PKM) dan upaya ini berhasil meningkatkan efisiensi pakan.

Kendalanya kata dia, PKM atau yang biasa disebut bungkil sawit sulit didapatkan Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari) karena harga mulai tinggi seiring permintaan untuk pakan yang tinggi. Memang Indonesia menjadi produsen terbesar kedua setelah Malaysia, akan tetapi 80 persen hasil produksi itu untuk diekspor.

Karena itu kata Slamet, sebagai solusinya, KKP meminta kepada pemerintah daerah untuk memfasilitasi agar 10 persen PKM bisa dialokasikan untuk bahan baku pakan ikan, tentunya dengan biaya yang murah.

“Saya sudah berkirim surat ke Gubernur Riau terkait hal ini, nanti jika belum ada tindaklanjut akan kami susulkan lagi surat himbauan berikutnya,” tegasnya.

Dia menuturkan bahwa program Gerpari telah terbukti mampu memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat. Ini terlihat dari peningkatan daya beli pembudidaya ikan yang terus membaik.

Menyitir data Badan Pusat Statistik (BPS), Slamet menyebutkan pada November 2019 angka nilai tukar pembudidaya ikan (NTPi) senilai 102,37 atau naik jika dibandingkan bulan yang sama pada 2014 senilai 101,64. Begitu halnya dengan pendapatan pembudidaya yang juga naik dari semula sebesar Rp3,2 juta per bulan pada 206 menjadi Rp3,6 juta per bulan pada tahun ini.

Lembaga FAO sendiri meyakini, paket formula pakan mandiri hasil kerja sama dengan KKP ini, bisa menjadi solusi untuk menekan biaya produksi budi daya Ikan Patin yang 70 persen disumbang dari harga pakan yang tinggi.

Menurut Asisten FAO Representatif Indonesia Ageng Herianto, melalui paket formula ini, para pembudidaya ikan kini mendapatkan akses pakan yang berkualitas dan murah.

“FCR (Feed Converstion Ratio) rata-rata kurang dari 2 dan harganya terjangkau yakni rata-rata Rp4.750 per kilogram. Kami berharap ini jadi solusi permasalahan dalam budi daya, khususnya dalam mempercepat pengembangan usaha budi daya Patin di Sumatera Selatan,” terangnya.

Ageng memastikan bahwa produk pakan formula FAO telah memenuhi standar mutu sesuai SNI dengan kisaran protein sebesar 20—25 persen. Di sisi lain, produk ini aman dari tambahan bahan bahan kimia dan biologis yang berbahaya.

Formula pakan FAO terdiri dari silase ikan, kepala udang, ikan asin, poles (dedak), bungkil sawit, kanji, premix, multy-enzym, dan phytase.

“Formula FAO ini memiliki performa yang baik. Kami telah uji lapang pada enam kelompok di Kota Palembang dan Kabupaten Banyuasin dan hasilnya memuaskan dibanding pakan mandiri yang selama ini diproduksi kelompok,” jelasnya.

Sementara itu, FAO International Consultant Thomas Shipton menilai Indonesia merupakan negara yang sangat diperhitungkan dalam pengembangan akuakultur global saat ini.

“Untuk itu, FAO memiliki kepentingan dalam memberikan dukungan bagi pengembangan akuakultur di Indonesia,” tandasnya. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Ekspor Perikanan IndonesiaFAOIkan PatinKementrian KKPPakan Mandiri
No Result
View All Result

Terbaru

  • IsDB Unites 78 Nations Through $6 Billion in Agreements
  • Cambodia Secures $63 Million ADB-Backed Battery Project to Accelerate Clean Energy Transition
  • UN Chief Warns of “Twin Crises” as Climate and Energy Shocks Converge
  • Firmed Solar Undercuts Most of Asia’s Planned Gas, and EVs Can Save Over $300 Billion a Year in Oil Imports
  • Indonesia Seeks Alliance of Island Nations to Push Climate Mobility Agenda Ahead of COP31
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.