• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

REFORMASI THAILAND: Sejumlah Aktivis Pro Demokrasi Ditangkap

by Redaksi Asiatoday
August 21, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
REFORMASI THAILAND: Sejumlah Aktivis Pro Demokrasi Ditangkap

Aksi demonstrasi besar-besaran di Thailand menuntut reformasi total. Foto: art of resistance

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Sejumlah pemimpin aksi unjuk rasa menuntut penerapan demokrasi di Thailand ditangkap aparat kemanan.

Tercatat, 9 pemimpin aksi sudah ditangkap sejak Rabu (12/8/2020). Diantara yang ditangkap adalah dua penyanyi rap dari dua acara musik anti militer yang digelar terpisah serta Arnon Nampa, pengacara yang pertama kali menuntut kekuasaan monarki di negara itu dibatasi.

Arnon sudah pernah ditangkap pada bulan lalu, tapi kemudian dibebaskan dengan jaminan.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Sementara itu, media lokal Thailand melaporkan belasan aktivis yang ikut serta dalam gerakan anti pemerintah sejak pertengahan Juli 2020, telah mendapat surat peringatan penangkapan. Tuduhan yang disertakan antara lain upaya separatisme, yang diancam hukuman penjara hingga 7 tahun.

“Janji-janji Pemerintah Thailand untuk mendengarkan suara di publik terbukti tidak berarti apapun sejalan dengan berlanjutnya penangkapan terhadap para aktivis pro demokrasi,” kata Director Human Rights Watch Asia Brad Adams, dikutip Bloomberg, Jumat (21/8/2020).

Sementara itu, Ketua Parlemen ASEAN untuk Hak Asasi Manusia Charles Santiago menilai generasi muda Thailand menginginkan perubahan dan ancaman dari aparat justru akan memperkuat determinasi mereka.

“Para pemimpin Thailand akan menemukan bahwa mendengarkan orang-orang yang ingin membahas masa depan Thailand dengan damai justru memberikan keuntungan besar bagi negara,” terangnya.

Thailand memberlakukan hukum yang ketat terhadap potensi kritik bagi keluarga kerajaan, dikenal sebagai lèse-majesté, yang memberikan ancaman hukuman hingga 15 tahun penjara bagi mereka yang dituduh mengejek raja atau keluarga kerajaan lainnya.

Raja Thailand

Tuntutan demokrasi yang lebih luas mengemuka seiring dengan keputusan Raja Maha Vajiralongkorn untuk lebih banyak tinggal di Jerman, termasuk ketika pandemi Covid-19 mewabah. Sebelum resmi naik tahta menjadi raja pada 2019, dia memang dikenal ‘eksentrik’.

Sejumlah ‘skandal’ yang melingkupinya adalah ketika Vajiralongkorn menyelenggarakan upacara kematian secara Buddhis selama 4 hari untuk anjingnya yang mati pada 2016, diketahui sering mengenakan pakaian minim ketika berada di tempat umum, dan perjalanan asmaranya yang mencakup pernikahan serta perceraian yang sudah berlangsung beberapa kali.

Sejak ditetapkan sebagai pewaris tahta Thailand, Vajiralongkorn sudah menolak pencalonan saudara perempuannya sebagai Perdana Menteri (PM) dalam Pemilihan Umum (Pemilu) tahun lalu, memberikan teguran resmi kepada eks PM Thaksin Sinawatra yang sedang dalam pengasingan, dan mengambil alih komando beberapa unit militer.

Dia juga mengambil alih kepemilikan aset-aset Badan Properti Raja melalui beberapa perubahan legal yang disetujuinya sendiri. Gabungan kepemilikan sahamnya di Siam Commercial Bank Pcl dan Siam Cement Pcl, dua korporasi besar Thailand, saja bernilai sekitar USD6,7 miliar.

Tidak diketahui berapa total nilai aset Vajiralongkorn jika termasuk aset di badan properti dan lembaga lainnya.

Pada Rabu (19/8), PM Thailand Prayuth Chan-Ocha mengatakan dia tak mau para pengunjuk rasa membahas monarki karena kerajaan adalah institusi yang terhormat.

“Ada 67 juta penduduk Thailand dan tidak semua orang mengikuti unjuk rasa. Mayoritas masyarakat di negara ini tidak setuju dengan demonstrasi,” ujarnya.

Chan-Ocha naik ke tampuk kepemimpinan melalui kudeta pada 2014. Dia terpilih kembali dalam Pemilu 2019, yang diklaim sebagian pihak penuh kecurangan.

Di sisi lain, Thailand tengah dirundung resesi setelah pandemi Covid-19 memukul ekonomi negara itu, yang mengandalkan pariwisata. (ATN)

Tags: Thailand
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.