• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Resesi Ekonomi Mencengkram Asia, Perdagangan Intra Regional Jadi Kunci

by Redaksi Asiatoday
August 20, 2020
in Business
Reading Time: 6 mins read
A A
0
Ekspor Komoditi Pertanian Indonesia Tumbuh Signifikan

Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Foto : Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Ekonomi global terpuruk akibat pandemi coronavirus (Covid-19). Efeknnya memicu gelombang resesi di belahan benua, termasuk di Asia.

Negara-negara di Asia mengalami situasi paling berat bahkan mendominasi korban resesi. Lumpuhnya aktivitas perdagangan jadi pemicu besar terjadinya.

Negara-negara di Asia yang telah mengalami resesi diantaranya Thailand, Jepang, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Hong Kong, Filipina.

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

Thailand

Ekonomi Thailand mengalami kontraksi 12,2 persen pada kuartal kedua tahun ini. Menurut Dewan Nasional Ekonomi dan Pembangunan Sosial, Investasi negeri Gadjah Putih, belanja konsumen dan perdagangan terkontraksi secara signifikan.

Kontraksi ekonomi Thailand ini menjadi paling tajam sejak krisis finansial melanda Asia pada akhir 1990-an.

Jepang

Ekonomi Jepang mengalami kontraksi yang sangat besar pada kuartal II dan resesi semakin dalam. Ekonomi Jepang anjlok 7,8 persen pada kuartal II 2020 (Quartal to Quartal/QtQ). Sedangkan secara tahunan, ekonomi Jepang minus 27,8 persen (year on year/yoy).

Kontraksi ekonomi Jepang ini menjadi yang terbesar sejak 1980. Hal ini membuat pemerintah Jepang berada dalam tekanan untuk mengambil tindakan yang lebih cepat guna mencegah ekonomi terkoreksi lebih dalam lagi.

Malaysia

Pertumbuhan ekonomi Malaysia minus 16,5 persen. Ekonomi Malaysia pun mengalami resesi setelah di kuartal pertama minus hingga 2 persen.

Singapura

Resesi dialami Singapura setelah ekonomi negeri itu minus 0,7 persen di kuartal I dan kuartal II menurun tajam ke angka minus 41,2 persen. Ini merupakan resesi terburuk sejak 1965.

Korea Selatan

Resesi ekonomi negeri ini tercatat yang pertama kalinya sejak tahun 2003. Di mana kuartal I tercatat pertumbuhannya minus 1,3 persen, kemudian kuartal-II minus 3,3 persen. Resesi itu disebabkan oleh konsumsi rumah tangga yang rendah hanya 1,4 persen.

Hong Kong

Negeri ini tercatat sudah mengalami resesi sebanyak empat kuartal secara berturut-turut. Kuartal I minus 9 persen dan kuartal-II minus 9,1 persen. Selain karena corona, anjloknya ekonomi juga dipicu oleh memanasnya hubungan antara China dan Amerika Serikat.

Filipina

Badan Statistik Filipina mencatat pertumbuhan ekonomi Filipina minus 16,5 persen pada kuartal II-2020.

Filipina menjadi negara Asia Tenggara selanjutnya yang jatuh dalam resesi ekonomi, di mana pada kuartal sebelumnya ekonomi negeri itu menurun hingga 15,2 persen.

Selain di Asia, resesi juga terjadi di negara-negara Eropa.

Inggris

Inggris mengalami kemerosotan terbesar dalam periode April hingga Juni karena Covid-19. Perekonomian Inggris turun 20,4 persen dibandingkan dengan tiga bulan pertama tahun ini.

Pada kuartal I, pertumbuhan ekonomi minus 2,2 persen. Dengan kontraksi yang terjadi dua periode menjadi pertanda bahwa Inggris mengalami resesi.

Spanyol

Negeri matador mengalami resesi akibat ekonomi di kuartal I minus 5,2 persen dan kuartal II minus 18,5 persen. Belanja domestik menjadi penyumbang utama perlambatan ekonomi.

Jerman
Jerman mengalami penurunan ekonomi paling tajam sejak 1970. Tercatat kuartal I minus 2,2 persen dan kuartal II minus 10,1 persen.

Prancis

Ekonomi Prancis mengalami resesi ketika kuartal II 2020 minus 13,8 persen.

Italia

Ekonomi Italia mengalami resesi ketika kuartal II 2020 ekonomi minus 12,4 persen.

Polandia

Ekonomi Polandia menyusut hingga 4,6 persen. Diperkirakan ekonomi Polandia akan minus 3,4 persen tahun ini.

Sementara Amerika Serikat, resesi ekonomi yang dialami negeri Paman Sam terburuk sejak 1947. Kuartal I pertumbuhan ekonominya minus 5 persen dan berlanjut kuartal kedua merosot ke minus 32,9 persen. Hal tersebut disebabkan konsumsi rumah tangga turun 34,6 persen.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui Badan Kebijakan Fiskal (BKF) menilai peluang resesi ekonomi Indonesia akan terjadi. Di mana pada kuartal II 2020, ekonomi Indonesia minus 5,3 persen.

Kepala BKF Febrio Kacaribu mengungkapkan pihaknya telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia minus dikisaran 1,1 persen hingga 0,2 persen selama tahun 2020, dari yang sebelumnya di kisaran minus 0,4 persen sampai 2,3 persen.

“Tekanan resesi makin besar karena peluang tahun ini tumbuh negatif cukup besar,” kata Febrio, Rabu (19/8/2020).

Pemerintah terus mengambil langkah agar pertumbuhan ekonomi tidak anjlok paling dalam di tahun 2020. Upaya tersebut mulai dari mempercepat penyerapan belanja pemerintah hingga merealokasi anggaran program perlindungan sosial yang belum berjalan efektif.

“Kita utamakan kebijakan kita menyasar mereka yang paling rentan. Kita melihat krisis global ini, kita adalah bagiannya, kita memang relatif bisa bertahan dibanding Filipina,” jelasnya.

Menurut dia, percepatan belanja pemerintah bisa menggantikan peran konsumsi rumah tangga dan investasi yang terkontraksi sangat dalam pada kuartal II-2020.

“Semua kementerian/lembaga harus kerja keras, spending ini harus diarahkan ke multiplier yang besar sehingga mencegah pelemahan ekonomi yang tidak terlalu dalam,” tandasnya.

Perdagangan Intra Regional

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) mendesak negara – negara di Asia untuk memacu perdagangan intra regional.

Pasalnya, sentimen anti globalisasi diperkirakan meningkat karena pandemi Covid-19, sehingga mengaktifkan perdagangan menjadi penting.

Pandemi Covid-19 telah memberikan tekanan cukup keras terhadap aktivitas perdagangan dan ekonomi dunia saat ini.

IMF memandang negara-negara di dunia perlu melanjutkan pembukaan pasar satu sama lain agar ekonomi tidak terus melemah.

“Saya pikir sangat penting bagi kita untuk menekankan bahwa perdagangan penting bagi pertumbuhan setiap negara dan kesejahteraan semua orang,” kata Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Chang Yong Rhee, baru-baru ini.

Menurut proyeksi IMF, Asia akan melihat kontraksi pertumbuhan ekonomi 1,6 persen pada 2020 di tengah meningkatnya kejatuhan ekonomi akibat Covid-19.

Asia sangat bergantung pada rantai pasokan global dan tidak dapat tumbuh ketika seluruh dunia menderita. Rhee berpandangan perdagangan Asia diperkirakan berkontraksi secara signifikan karena melemahnya permintaan eksternal.

Pemberi pinjaman multilateral merevisi turun perkiraan untuk ekonomi global, memproyeksikan kontraksi 4,9 persen pada 2020 atau 1,9 poin di bawah perkiraan April.

Rhee mengatakan Covid-19 menghantam Asia lebih awal, dan banyak ekonomi Asia, termasuk China, Korea Selatan, dan Vietnam.

“Berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari yang diproyeksikan untuk kawasan Asia pada kuartal pertama,” ujarnya.

Ia menambahkan karena beberapa negara di Asia memiliki virus yang relatif terkendali maka sektor pariwisata kemungkinan akan pulih di antara negara-negara tetangga lainnya yang akan menjadi sumber pertumbuhan penting bagi kawasan itu.

Untuk China, yang menawarkan pasar domestik yang besar, beralih dari model pertumbuhan yang berorientasi ekspor ke model pertumbuhan yang didorong oleh permintaan domestik. Tetapi untuk ekonomi Asia yang lebih kecil, transisi semacam itu mungkin bukan solusi.

Rhee menambahkan bahwa intra regional perdagangan akan menjadi sangat penting bagi negara-negara di Asia.

“Setiap perjanjian perdagangan bilateral, regional, atau multilateral akan sangat penting dalam lingkungan ini, sambil menambahkan bahwa negara-negara harus mempertimbangkan dan meningkatkan kelemahan yang kita lihat untuk membuat manfaat lebih inklusif,” tandasnya. (ATN)

Tags: Asia EropaIMFKrisis EkonomiResesi AsiaResesi EkonomiResesi Global
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.