• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Ribuan Mahasiswa di Thailand Kepung ‘Government House’ Tuntut PM Mundur

by Redaksi Asiatoday
September 19, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Ribuan Mahasiswa di Thailand Kepung ‘Government House’ Tuntut PM Mundur

Aksi demonstrasi mahasiswa menuntut Perdana Menteri Thailand, Prayut Chan-o-cha, mundur. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Gelombang unjukrasa mahasiswa menyerukan reformasi di Thailand kembali menggema, Sabtu (19/8/2020).

Puluhan ribu mahasiswa di negeri itu turun ke jalan menuntut Perdana Menteri  Thailand, Prayut Chan-o-cha, mundur. Para mahasiswa mengepung ‘government house’, kantor sang perdana menteri.

Selain menyerukan PM mundur, massa juga menuntut dihapuskannya hukum yang melarang kritik terhadap keluarga kerajaan.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Mengutip Bangkok Post, aksi demonstrasi mahasiswa sempat memanas setelah dihadang polisi anti huru hara dan meminta para demonstran membubarkan diri. Namun para mahasiswa tetap bertahan.

Situasi makin memanas lantaran massa tak terima dengan tindakan polisi yang memasang pagar pembatas agar para demonstran tidak merangsek masuk ke halaman kantor PM Prayut.

Para demonstran bahkan mencabut kabel mikropon aparat keamanan. Mereka terus mendesak polisi agar bisa masuk ke Sanam Laung-sebuah taman di kompleks kerajaan Thailand.

Dalam sebuah pernyataan bersama, para demonstran menyatakan bahwa Sanam Laung dulunya adalah ruang publik, dan baru sekarang menjadi tertutup. Hanya orang-orang kerajaan yang bisa ada di sana.

“Saatnya menduduki dan merebutnya kembali,” bunyi pernyataan tersebut.

Polisi menutup semua akses ke Sanam Laung. Beberapa demonstran pun makin marah, bahkan ada yang mencoba untuk memanjat pagar untuk bisa masuk ke dalam.

Demonstrasi yang disebut-sebut terbesar dalam sejarah monarki Thailand kali ini diorganisir oleh mahasiswa Universitas Thammasat Bangkok, sebuah kelompok yang paling vokal tentang peran keluarga kerajaan.

“Kami berjuang untuk lebih banyak demokrasi. Rencananya bukan untuk menghancurkan monarki, tetapi untuk memodernisasi, menyesuaikannya dengan masyarakat kita,” kata Panusaya Sithijirawattanakul, aktivis mahasiswa terkemuka pada Jumat (18/9) malam. (ATN)

Tags: Thailand
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.