• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 24, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Senat AS: China harus Dihukum atas Maraknya Kasus Overdosis Fentanil

by Redaksi Asiatoday
July 17, 2023
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Jepang: Invasi Militer ke Taiwan dan Rivalitas AS-China Ancam Stabilitas Asia Timur

United States (US) and China. Doc

ASIATODAY.ID, WASHINGTON – Pemimpin Mayoritas Senat Amerika Serikat (AS), Chuck Schumer, menyalahkan China atas maraknya kasus overdosis fentanil.

Oleh karena itu, dia ingin mendorong regulasi untuk memberikan sanksi terhadap China karena memproduksi fentanil opioid sintetis.

Terkait kematian puluhan ribu warga AS akibat overdosis fentanil, menurut Schumer, tak dapat dipisahkan dari China.

RelatedPosts

Indonesia’s Film Industry Trapped as a Foreign Content Market Amid Korean and Chinese Drama Surge

ADB Bets on Vanuatu’s Future with $10 Million Lifeline for Economic Transformation

World Bank Warns: $54 Billion in Natural Gas Burned as Global Energy Crisis Deepens

Pasalnya, obat yang masuk dalam golongan narkotika itu diproduksi di China, dan dibuat atas persetujuan pemerintah China.

“Saya akan mendorong amandemen (bipartisan) ke dalam RUU pertahanan yang akan mencakup penghentian fentanil utama, dan undang-undang yang memberdayakan sanksi, dan kami akan membawa RUU itu ke forum minggu ini,” kata Schumer dalam konferensi pers di New York, sebagaimana dikutip dari Reuters pada Senin (17/7).

“Saya harap itu akan berlalu. Saya percaya itu akan berlalu dengan dukungan bipartisan yang kuat. Dan itu harus. Itu harus,” tegas dia.

Sebelumnya, Beijing menuduh Washington menggunakan krisis fentanil sebagai dalih untuk menjatuhkan sanksi pada perusahaan China.

Padahal, China telah menawarkan untuk bekerja sama dengan negara lain untuk mengatasi masalah narkoba.

Sementara itu, media pemerintah China telah berulang kali menyebut kecanduan dan tingginya permintaan narkotika yang juga berfungsi sebagai obat penghilang rasa nyeri itu sebagai masalah rumah tangga AS.

Namun, Schumer yakin bahwa regulasi dalam RUU Pertahanan yang akan dia lemparkan ke forum ini akan membatasi peredaran fentanil di mastarakat, serta membuka sanksi bagi China.

“Ini akan sangat sulit bagi mereka dan kami akan membuat mereka menekan fentanil yang datang ke Amerika Serikat,” tutup Schumer. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Amerika SerikatChina
No Result
View All Result

Terbaru

  • Cambodia Secures $63 Million ADB-Backed Battery Project to Accelerate Clean Energy Transition
  • UN Chief Warns of “Twin Crises” as Climate and Energy Shocks Converge
  • Firmed Solar Undercuts Most of Asia’s Planned Gas, and EVs Can Save Over $300 Billion a Year in Oil Imports
  • Indonesia Seeks Alliance of Island Nations to Push Climate Mobility Agenda Ahead of COP31
  • Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.