• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Tren Globalisasi Kini Berubah Jadi Deglobalisasi

by Redaksi Asiatoday
May 20, 2023
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Kenaikan Harga Batubara dan Nikel akan Berlanjut Tahun Ini

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati. Dok Kemenkeu

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Perkembangan dinamika global yang sedemikian cepat pasca pandemi telah menciptakan kompleksitas yang berat dalam tahun-tahun sekarang dan ke depan.

Hal ini menjadi tantangan besar yang sedang dan akan dihadapi oleh Indonesia dan negara-negara lain di seluruh dunia, salah satunya adalah ketegangan geopolitik global.

“Pertama, ketegangan geopolitik global yang menjadi tantangan berat yang kita hadapi,” kata Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Jumat (19/5/2023).

RelatedPosts

Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals

Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen

Bangladesh’s Banking Crisis Deepens as World Bank Unveils $450 Million Rescue Package

Tensi geopolitik telah menyebabkan perubahan signifikan arah kebijakan ekonomi negara-negara besar yang akan memberikan imbas yang sangat besar bagi seluruh perekonomian.

Negara besar cenderung menjadi inward-looking, proteksionis, sehingga akibatnya dunia akan terfragmentasi.

“Tren globalisasi berubah menjadi deglobalisasi. Fenomena ini sudah dimulai sejak 2017, ketika Amerika Serikat (AS) menerapkan kebijakan mengembalikan sektor manufaktur ke dalam wilayah negaranya atau reshoring,” ungkap Sri Mulyani.

Hal ini pada akhirnya memicu perang dagang antara AS dan China, yang merupakan perekonomian kesatu dan kedua terbesar dunia.

Sejak saat itu, tensi perang dagang atau trade war antara AS-China terus berlangsung dan menimbulkan ketidakpastian global.

“Perang Rusia-Ukraina yang terjadi di awal 2022, mempertajam polarisasi dan fragmentasi geopolitik tersebut,” tambahnya.

Kerja sama ekonomi dan kemitraan strategis semakin terkotak-kotak sesuai dengan kedekatan aliansi atau friendshoring. Akibatnya, aktivitas perdagangan yang banyak tergantung pada pasar ekspor dan aliran modal luar negeri terkena dampak signifikan.

“Fragmentasi geopolitik ini telah memicu fenomena dedolarisasi yang juga berdampak besar, baik pada perekonomian AS sendiri maupun ekonomi global,” pungkasnya. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: DeglobalisasiGlobalisasiPerang Dagang Amerika-ChinaTrade War
No Result
View All Result

Terbaru

  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • Indonesia Seeks Bigger Eurasian Role After Securing Top Partner Status at Russia’s INNOPROM 2026
  • Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals
  • Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen
  • Bangladesh’s Banking Crisis Deepens as World Bank Unveils $450 Million Rescue Package
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.