• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Ukur Konservasi, KOBI Gagas Indeks Biodiversitas Indonesia

by Redaksi Asiatoday
November 25, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Ukur Konservasi, KOBI Gagas Indeks Biodiversitas Indonesia

Spesies Jalak Bali kian terancam, salah satu keanekaragaman hayati Indonesia. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Sebagai negara dengan tingkat keanekaragaman hayati (biodiversity) terbesar kedua di dunia, Indonesia sudah seharusnya  memiliki indeks biodiversitas nasional untuk mengukur aktivitas konservasi keanekaragaman hayati.

Menurut Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), Budi S. Daryono, Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI) sangat dibutuhkan untuk mengukur tren biodiversitas nasional.

“Data IBI ini dibutuhkan untuk mendorong pemerintah pusat dan daerah agar lebih giat melakukan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia,” kata dia melalui keterangannya dikutip Rabu (25/11/2020).

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Walaupun sebelumnya Indonesia menerapkan Convention on Biodiversity (CBD) dan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai landasan aksi konservasi hayati, namun ia memandang, status dan tren penurunan populasi masih terus berlanjut dan kian memprihatinkan.

Kondisi itu terjadi akibat pertumbuhan penduduk dan peningkatan jumlah konsumsi serta perdagangan beragam tumbuhan dan satwa liar sebagai salah satu komoditas.

Budi mengungkapkan, tren penurunan keanekaragaman hayati, tidak hanya terjadi di Indonesia, namun penurunan keanekaragaman hayati juga terjadi di tingkat global.

Data Living Planet Index (LPI) tahun 1970-2016 menyebutkan, bahwa persentase rata-rata penurunan populasi pada mamalia, burung, amfibi, reptil dan ikan mencapai 68 persen di dunia.

“Untuk itu, penting menginisasi Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI) ini untuk mengukur tren biodiversitas nasional,” imbuhnya.

Indeks biodiversitas atau indeks keanekaragaman spesies merupakan indeks yang menyatakan susunan ekosistem dan komunitas penyusunnya serta kestabilan suatu ekosistem.  Indeks ini tidak hanya berupa makna, namun mengandung nilai dan konsep pelestarian keanekaragaman hayati di dunia.

Dunia internasional menyebutnya sebagai global living index yang merupakan hasil kolaborasi peneliti biodiversitas internasional dengan lembaga konservasi global.

Mengingat pentingnya menghimpun data keanekaragaman hayati nasional ini, KOBI melalui Komite Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI) menginisiasi IBI. Upaya tersebut dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional pada 5 November 2020 lalu.

Selain IBI, Budi menyebutkan perlunya dikembangkan Bioeconomy yaitu sistem ekonomi hayati yang berbasis pada produksi sumber daya hayati terbarukan. Selain itu, konversi sumber daya alam dan limbah produksinya menjadi suatu produk yang bernilai tinggi dengan menerapkan prinsip ekonomis sirkular untuk meminimalkan penggunaan sumber daya serta energi agar diperoleh hasil yang optimal dan menekan kerusakan lingkungan. (ATN)

Tags: BiodiversityKeanekaragaman HayatiKonservasi Alam
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.