ASIATODAY.ID, JAKARTA – Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengungkapkan dampak pandemi global wabah coronavirus (Covid-19) akan menggerus pertumbuhan ekonomi dunia paling tidak seperti yang terjadi pada 2008. Kendati demikian, IMF berharap tahun depan segera terjadi recovery.
Georgieva menyatakan IMF siap mengerahkan seluruh kapasitas pinjaman senilai USD1 triliun yang dimiliki dan sedang mencari opsi lain yang tersedia untuk menangani dampak pandemi covid-19.
“Dampak kemanusiaan akibat wabah coronavirus tidak bisa dihitung lagi, semua negara harus bekerja sama untuk melindungi masyarakat dan memininalisasi dampak ekonomi yang terjadi. Inilah momen untuk menunjukkan solidaritas,” ujar Georgieva, dalam keterangan resmi IMF Rabu (25/3/2020).
Pernyataan Georgieva disampaikan setelah konferensi jarak jauh dengan para Menteri Keuangan G20 dan Gubernur Bank Sentral, intinya;
“Biaya kemanusiaan dari pandemi Coronavirus sudah tak terhitung dan semua negara perlu bekerja sama untuk melindungi orang dan meminimalisasi kerusakan ekonomi. Ini adalah momen solidaritas — yang merupakan tema utama pertemuan para Menteri Keuangan G20 dan Gubernur Bank Sentral hari in,” ujarnya.
Georgieva menekankan tiga poin, yaitu:
Pertama, prospek pertumbuhan global untuk 2020 akan negatif.
“Resesi sama buruknya dengan krisis keuangan global atau lebih buruk. Tetapi kami mengharapkan pemulihan pada tahun 2021,” jelasnya.
Untuk sampai ke sana, Georgieva menegaskan sangat penting untuk memprioritaskan ketahanan dan memperkuat sistem kesehatan, di mana-mana.
“Dampak ekonomi akan parah, tetapi semakin cepat virus berhenti, semakin cepat dan kuat pemulihannya,” imbuhnya.
“Kami sangat mendukung tindakan fiskal luar biasa yang telah dilakukan banyak negara untuk meningkatkan sistem kesehatan dan melindungi pekerja dan perusahaan yang terkena dampak. Kami menyambut baik langkah bank sentral utama untuk melonggarkan kebijakan moneter. Upaya yang berani ini tidak hanya untuk kepentingan masing-masing negara, tetapi juga untuk ekonomi global secara keseluruhan. Bahkan lebih banyak akan dibutuhkan, terutama di bidang fiskal,” jelasnya.
Kedua, Georgieva menyebutkan bahwa negara dengan ekonomi maju umumnya berada dalam posisi yang lebih baik untuk merespons krisis.
“Tetapi banyak negara emerging market dan negara berpenghasilan rendah menghadapi tantangan yang signifikan. Mereka sangat terpengaruh oleh aliran modal keluar, dan aktivitas domestik akan sangat terpengaruh ketika negara-negara menanggapi epidemi,” paparnya.
Georgieva mengungkapkan, para investor telah menarik dana investasi mereka hingga USD83 miliar dari pasar negara berkembang sejak awal krisis. Itu merupakan aliran modal keluar terbesar yang pernah tercatat.
“Kami khususnya prihatin dengan negara-negara berpenghasilan rendah yang berada dalam kesulitan utang — suatu masalah yang menjadi poin kerja sama erat dengan Bank Dunia,” jelasnya.
Ketiga, apa yang bisa kita, IMF, lakukan untuk mendukung anggota kita?
“Kami memusatkan pengawasan bilateral dan multilateral pada krisis ini dan tindakan kebijakan untuk meredam dampaknya. Kami akan secara besar-besaran meningkatkan keuangan darurat — hampir 80 negara meminta bantuan kami — dan kami bekerja sama dengan lembaga keuangan internasional lainnya untuk memberikan tanggapan terkoordinasi yang kuat,” paparnya.
Saat ini kata Georgieva, IMF sedang mengisi kembali Dana Ketahanan dan Pemulihan Bencana untuk membantu negara-negara termiskin.
“Kami menyambut janji yang sudah dibuat dan meminta pihak lain untuk bergabung. Kami siap untuk mengerahkan semua kapasitas pinjaman US$1 triliun kami dan kami sedang mencari opsi lain yang tersedia.”
Disebutkan Georgieva bahwa “beberapa negara berpenghasilan rendah dan menengah telah meminta IMF untuk membuat alokasi SDR seperti yang kami lakukan selama Krisis Keuangan Global, dan kami sedang menjajaki opsi ini dengan keanggotaan kami.”
SDR atau Special Drawing Right adalah aset cadangan intenasional yang digagas IMF pada 1969 yang ditargetkan sebagai suplemen bagi cadangan resmi negara-negara anggota IMF.
Lebih jauh Georgieva menyatakan bahwa bank-bank sentral utama telah memulai jalur pertukaran bilateral dengan negara-negara pasar berkembang.
“Ketika krisis likuiditas global berlangsung, kami membutuhkan anggota untuk menyediakan jalur swap tambahan. Sekali lagi, kami akan menjajaki dengan Dewan Eksekutif dan keanggotaan, proposal yang mungkin yang akan membantu memfasilitasi jaringan swap yang lebih luas, termasuk melalui fasilitas tipe swap-IMF,” jelasnya.
Menurut Georgieva, apa yang terjadi saat ini adalah keadaan luar biasa.
“Banyak negara sudah mengambil tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kami di IMF, bekerja dengan semua negara anggota kami, akan melakukan hal yang sama. Mari kita berdiri bersama melalui keadaan darurat ini untuk mendukung semua orang di seluruh dunia,” imbuhnya. (ATN)
,’;\;\’\’
