• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Utang Negara Miskin Menggunung, World Bank Singgung Kreditur China

by Redaksi Asiatoday
October 13, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Kurangi Utang, Cara Negara Keluar dari Kemiskinan

Presiden World Bank David Malpass. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Negara-negara miskin kian menderita karena harus menanggung beban utang yang menggunung akibat pandemi Covid-19.

World Bank mencatat utang 73 negara termiskin di dunia menyentuh angka USD744 miliar atau sekitar Rp10.963 triliun pada 2019, sebelum terjadi  pandemi Covid-19. Angka itu tumbuh 9,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Melansir AFP, Selasa (13/10/2020), Bank Dunia menilai pertumbuhan utang itu mencerminkan “urgensi bagi kreditur dan debitur untuk berkolaborasi demi mencegah risiko krisis utang pemerintah yang meningkat karena pandemi Covid-19”.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Virus corona yang mewabah sejak Maret lalu telah meruntuhkan perekonomian global. Pada April lalu, kelompok negara G20 sepakat untuk mendukung penangguhan utang bagi negara termiskin di dunia.

Presiden Bank Dunia David Malpass menyatakan keringanan yang diberikan lebih lemah dari perkiraan karena “tidak semua kreditur berpartisipasi sepenuhnya.

“Tercatat hanya USD5 miliar penangguhan yang diberikan dari perkiraan USD8 miliar hingga USD11 miliar,” ujarnya.

Laporan tersebut juga menyatakan beban utang yang ditanggung negara termiskin dunia ke negara lain, sebagian besar negara G20 mencapai USD178 miliar tahun lalu.

Porsi China selaku kreditur terbesar dari negara G20 meningkat dari 45 persen pada 2013 menjadi 63 persen tahun lalu.

Malpass menyorot kurangnya partisipasi kreditur dari sektor swasta. Selain itu, ia juga menduga negara maju yang tidak sepenuhnya menjalankan porsinya.

“Beberapa dari kreditur bilateral terbesar, termasuk beberapa dari China, masih belum berpartisipasi dalam moratorium. Hal itu menguras negara-negara miskin,” ujar Malpass.

Malpass juga mendesak transparansi terkait utang, merujuk ke China yang ia sebut dalam beberapa kasus telah memberikan penundaan pembayaran pokok utang namun terus mengenakan bunga. Hal itu berisiko menambah beban utang, alih-alih meringankannya. (ATN)

Tags: UtangWorld Bank
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.