ASIATODAY.ID, MEDAN – Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara mencatat, volume ekspor karet asal Sumatera Utara turun 10,18 persen sepanjang 2019.
Volume ekspor karet sepanjang Januari-Desember 2019 sebesar 410.072 ton. Volume ekspor sepanjang tahun lalu itu, menyusut 46.464 ton atau 10,18 persen dibandingkan dengan volume ekspor 2018 sebesar 456.536 ton.
Volume ekspor pada 2019 juga masih lebih rendah dari volume pada 2016 sebesar 421.670 ton dan pada 2017 sebesar 512.725 ton.
“Volume ekspor karet alam asal Sumatera Utara melalui Pelabuhan Belawan pada 2019 sebesar 410.072 ton. Volume ini mengalami penurunan sebesar 46.464 ton dibandingkan tahun 2018 sebesar 456.536 ton,” terang Sekretaris Gapkindo Sumatera Utara Edy Irwansyah, dalam keterangan tertulisnya Selasa (14/01/2020).
Menurut Edy, sejumlah faktor memengaruhi penurunan volume ekspor tersebut.
Pertama, melemahnya permintaan dari konsumen utama terutama China. China adalah konsumen nomor satu dunia yang saat ini konsumsinya lebih dari 5,5 juta ton per tahun. Melemahnya permintaan ini cermin dari melemahnya pertumbuhan ekonomi China menjadi 6,5 persen dari 6,6 persen pada 2018.
Kedua, belum baiknya harga karet dan adanya wabah jamur Pestalotopsis sp yang mengakibatkan produksi dari karet berkurang. Rendahnya harga karet mengakibatkan petani kurang bergairah mengusahakan kebun karetnya. Petani memilih alih profesi dan mengkonversi tanamannya. Adanya wabah jamur Pestalotiopsis mengakibatkan gugur daun sekunder pada sebagian perkebunan karet yang berdampak pada penurunan produksi.
Ketiga, selama April-Juli, eskportir Sumatra Utara turut menjalankan pembatasan ekspor lebih dari 10 persen. Dasar pelaksanaan pembatasan ini adalah Surat Keputusan Menteri Perdagangan No. 779 Tahun 2019 tentang Pelaksanaan Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) ke-6 untuk komoditi karet alam. Dalam keputusan ini, Menteri Perdagangan menugaskan Gapkindo sebagai pelaksana Agreed Export Tonnage Scheme keenam untuk komoditi karet alam.
Adapun, volume penjualan lokal pada 2019 sebesar 51.006 ton, naik 9,52 persen dibandingkan dengan volume pada 2018 sebesar 46.571 ton. Dengan demikian, total penjualan sepanjang 2019 sebesar 461.078 ton, turun 8,35 persen dibandingkan dengan 2018 sebesar 503.107 ton. (ATN)
,’;\;\’\’
