• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

PM Singapura Bicara Tentang Rivalitas AS dan China

by Redaksi Asiatoday
March 15, 2021
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Darurat Covid-19, PM Lee Apresiasi Pengorbanan Umat Islam di Singapura

PM Singapura, Lee Hsien Loong. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Rivalitas Amerika Serikat (AS) dan China terus menjadi perhatian negara-negara di Asia Tenggara, tak terkecuali Singapura.

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong memandang, AS dan China sebaiknya bekerja sama sehingga keduanya dan negara lain tidak berada di situasi yang sulit.

PM Lee mengungkapkan hal itu dalam wawancara bersama BBC yang direkam pada dua pekan lalu dan tayang Minggu (14/3/2021).

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

PM Lee berharap tidak perlu memilih satu di antara dua kekuatan besar karena itu tidak mungkin mengingat Singapura memiliki hubungan yang kuat dengan AS dan China.

China berbeda dengan Uni Soviet pada 1991 karena China memiliki perekonomian yang kuat dan orang-orang penuh energi dan kreatif, kata Lee. Begitu pula dengan AS yang dilanda pergolakan politik, tidak akan mati.

“AS dan China memiliki vitalitas dan daya tarik yang luar biasa bagi orang-orang di seluruh dunia. Mereka telah bangkit dari kesulitan sebelumnya. Dalam situasi itu, saya pikir kecuali dua kekuatan memutuskan untuk hidup berdampingan, mereka berdua akan berada dalam masa sulit, dan begitu juga kita,” katanya dikutip dari South China Morning Post.

Pada Kamis lalu, parlemen China mengesahkan perubahan sistem Pemilu Hong Kong yang dinilai hanya akan memenangkan patriot yang pro-Beijing. Kebijakan ini dinilai akan mematikan demokrasi Hong Kong.

Sejumlah negara seperti Inggris mengecam keputusan tersebut dan mengatakan tindakan tersebut sebagai ketidakpatuhan terhadap Deklarasi Bersama Sino-Inggris 1984 untuk menentukan masa depan Hong Kong.

Washington juga mengatakan bahwa keputusan tersebut akan menyulitkan Hong Kong.

Rencananya, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan diplomat tinggi Yang Jiechi di Alaska, Kamis.

Lee mengatakan keputusan Beijing terhadap Hong Kong telah memberi keuntungan beberapa “teman”, tetapi di saat yang sama juga memanaskan hubungannya dengan kekuatan lain dan negara lainnya.

“Ada semacam ketidakpastian dan kecemasan yang signifikan tentang ke mana arah China dan apakah ini akan baik untuk mereka. Saya tidak berpikir itu untuk kepentingan China,” katanya.

Menurut Lee, meski ketegangan antara AS dan China lebih panas ketimbang 5 tahun lalu, situasinya belum terlalu parah. Namun, ketegangan hubungan yang tinggi dapat terjadi di kemudian hari.

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Luar Negeri China Wang Yi telah menyatakan strategi kebijakan luar negerinya dengan membangun pengaruh di negara-negara berkembang untuk menghadapi AS.

Pada saat Wang fokus ke negara berkembang, Presiden AS Joe Biden tengah berupaya mengumpulkan kekuatan kembali dengan sekutunya dari Quad (Australia, AS, Jepang, dan India) dengan melakukan pertemuan virtual perdana pada bulan ini untuk melawan China.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan berurusan dengan China menjadi ujian terbesar. Dalam pidatonya melalui video, Blinken mengatakan pendekatan dengan China akan kompetitif ketika diperlukan, kolaboratif jika mampu, dan menentang jika diharuskan.

“China adalah satu-satunya negara dengan ekonomi, diplomasi, militer, dan kekuatan teknologi yang benar-benar menguji stabilitas dan sistem internasional terbuka,” ujar Blinken seperti dikutip dari Bloomberg. (ATN)

Tags: Amerika SerikatChinaIndo PasifikSingapura
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.