• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Forum

Dunia Hadapi Risiko Fragmentasi, Indonesia Sampaikan 4 Solusi Prioritas

by Redaksi Asiatoday
October 17, 2022
in Forum
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Dunia Hadapi Risiko Fragmentasi, Indonesia Sampaikan 4 Solusi Prioritas

Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati. Foto: Panitian Presidensi G20 Indonesia

ASIATODAY.ID, WASHINGTON – Managing Director International Monetari Fund (IMF), Kristalina Georgieva dan Presiden World Bank Group, David Malpass menyampaikan bahwa, dunia saat sedang menghadapi risiko fragmentasi tahun ini dan tahun yang akan datang akibat krisis pangan, krisis energi, dan juga inflasi yang terus meningkat.

Oleh karena itu, peran menteri keuangan dan gubernur bank sentral di seluruh dunia menjadi begitu vital dalam mengambil langkah-langkah serta mendesain kebijakan-kebijakan fiskal dan moneter yang mampu meredam dampak risiko fragmentasi ini.

“Saat ini, kami percaya setidaknya ada empat prioritas yang harus menjadi fokus negara-negara saat ini,” ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia, Sri Mulyani dalam siaran persnya, Senin (17/10/2022).

RelatedPosts

Indonesia Secures OECD Backing, Trade Gains, and Strategic Partnerships with Major Economies

Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access

UNFPA Partners with Guardian Girls Indonesia and the Japan Foundation on SEA-WCD

Adapun empat prioritas tersebut yakni:

Pertama, memerangi tekanan inflasi sebagai akar penyebab ketidakstabilan ekonomi saat ini.

Kedua, memberikan bantuan fiskal yang tepat sasaran khususnya bagi kelompok rentan.

Ketiga, terus membangun kesinambungan pertumbuhan jangka panjang yang lebih kuat melalui reformasi struktural yang komprehensif.

Keempat, penguatan semangat multilateralisme, kerja sama, dan solidaritas.

Dalam kesempatan ini, Menkeu Sri Mulyani memastikan Indonesia akan terus menjaga dan mendesain kebijakan-kebijakan menjaga masyarakat dan mendorong denyut perekonomian.

Usai memimpin pertemuan FMCBG 20, Menkeu dan jajaran lanjut melakukan sejumlah kegiatan pada hari kelima rangkaian pertemuan tahunan IMF-World Bank. Salah satunya yakni pertemuan dengan Moody’s Anne Van Praagh dan Marie Diron.

Menkeu, Anne Van Praagh, dan Marie Diron membahas mengenai prospek perekonomian Indonesia ke depan dengan adanya kondisi peningkatan risiko global dalam pertemuan dengan Moody’s.

Pada penilaian terakhir 10 Februari 2022, Moody’s yang merupakan lembaga pemeringkat terkemuka internasional memberikan Indonesia predikat sebagai negara dengan perekonomian yang cukup stabil di tengah situasi global yang bergejolak.

IMF-ASEAN Roundtable

Menkeu Sri Mulyani juga memberikan pidato penutup dalam pertemuan IMF-ASEAN Roundtable. Dalam forum ini, para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara anggota ASEAN membahas mengenai upaya para pembuat kebijakan untuk menyeimbangkan antara menekan inflasi dan mendorong pemulihan ekonomi, ketahanan ASEAN terhadap kebijakan pengetatan moneter Amerika Serikat dan kawasan Eropa, cara menggunakan kebijakan makroprudensial untuk menghadapi kebijakan normalisasi moneter Amerika Serikat dan kawasan Eropa, dan burden sharing antara kebijakan fiskal dan moneter.

Dalam intervensinya, Menkeu Sri Mulyani menyampaikan ASEAN harus terus melindungi perekonomian dari dampak negatif dinamika global.

“Dalam Laporan World Economic Outlook (Oktober 2022), IMF telah merevisi turun prospek pertumbuhan ASEAN-5 pada 2023 sebesar 0,2 poin persentase menjadi 4,9 persen. Sebagian besar negara di kawasan ini diproyeksikan tumbuh lebih lambat pada 2023 dari yang diperkirakan semula karena permintaan global yang melambat. Namun, secara keseluruhan prospek wilayah ini tetap relatif lebih baik daripada banyak wilayah lainnya,” jelasnya.

Untuk mempertahankan pemulihan, ASEAN harus terus memprioritaskan kebijakan yang melindungi daya beli rumah tangga di tengah kenaikan harga, memberikan kepercayaan kepada sektor bisnis, dan bertujuan membangun fondasi yang lebih kuat untuk pembangunan jangka menengah dan panjang melalui reformasi struktural. (ATN)

Tags: IMF-ASEAN RoundtableKrisis EkonomiResesi Global
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.