• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

1 Miliar Anak Muda di Dunia Alami Gangguan Pendengaran akibat Headphone

by Redaksi Asiatoday
March 1, 2023
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
1 Miliar Anak Muda di Dunia Alami Gangguan Pendengaran akibat Headphone

Anak muda pengguna headphone. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar satu miliar anak muda di dunia berisiko mengalami gangguan pendengaran, terutama karena terpapar suara bising.

Paparan suara bising yang dimaksud di antaranya mendengarkan musik beraransemen bising dan sebagainya.

“Lebih dari 50 persen penduduk berusia 12 hingga 35 tahun mendengar musik melalui perangkat MP3 smartphone pada volume yang berisiko menurunkan kesehatan telinga,” kata Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Eva Susanti, dalam Konferensi Pers Hari Pendengaran Sedunia 2023 yang diikuti dalam jaringan di Jakarta, Rabu (1/3/2023).

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Faktor suara bising hingga kebiasaan menggunakan perangkat elektronik headphone dalam jangka waktu berlebih, berisiko memicu gangguan pendengaran. Paparan kebisingan dengan intensitas di atas 80 desibel pada durasi lebih dari 40 jam per pekan dapat menyebabkan gangguan pendengaran.

“(Bisa) merusak sel rambut sensorik pada telinga bagian dalam,” ujarnya.

Menurut dia, perangkat berteknologi canggih saat ini membuat tantangan dalam masalah pendengaran menjadi semakin kompleks.

“Akibat kebiasaan baru selama pandemi yang mengondisikan banyak orang beraktivitas menggunakan piranti dengar, dan sebagian besar abai pada kesehatan telinga,” kata dia.

Dia mengatakan, paparan bising juga dapat dijumpai di lingkungan pabrik akibat gesekan benda keras yang memekakkan telinga.

“Situasi itu tidak hanya mengganggu pendengaran, tapi juga berisiko menyebabkan penyakit jantung, gangguan tidur hingga kognitif,” kata dia.

Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan 2018, prevalensi gangguan pendengaran pada penduduk usia 50 tahun ke atas di Indonesia berkisar 2,6 persen. Artinya, dua sampai tiga orang dari 100 orang mengalami gangguan pendengaran, dan angka ketulian sebesar 0,09 persen. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Gangguan PendengaranWHO
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.