• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Tuesday, July 14, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Konfrontasi AS dan China Kian Menajam, Tantangan Besar Negara di Asia

by Redaksi Asiatoday
November 21, 2020
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Diusir Paksa China, Diplomat AS Tinggalkan Kota Chengdu

Amerika Serikat dan China. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Konfrontasi yang melibatkan dua kekuatan besar Amerika Serikat (AS) dan China di tengah pandemi Covid-19 terus menajam. Bahkan, AS menuding China sebagai dalang pandemi.

Washington di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump juga semakin menjauhkan diri dari kerja sama multilateral. Situasi ini jelas menyulitkan negara-negara lain, termasuk negara berkembang, karena AS salah satu negara maju yang ditunggu kepemimpinannya.

Mantan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengungkapkan, tiap negara harus merespons situasi saat ini dengan baik. Ketegangan hubungan AS dan China harus disikapi hati-hati.

RelatedPosts

California Seeks Strategic Partnership with Indonesia

FBI Joins Indonesia Corruption Probe as Gold and Millions in Cash Raise Global Scrutiny

Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert

“Ini tantangan besar yang dihadapi banyak negara di Asia, termasuk Indonesia,” kata Marty dalam salah satu sesi di konferensi Global Town Hall yang digelar virtual, Jumat (20/11/2020).

Menurutnya, cara terbaik menghadapi situasi ini adalah bersikap netral. Perhitungan akan risiko dari setiap pilihan yang ada juga menjadi alternatif lain dalam menghadapi tantangan ini. Meski demikian, ia menilai negara-negara di Asia Tenggara harus bisa mempromosikan perilaku kredibel.

“Nilai yang mesti dapat dibawa oleh sejumlah negara seperti Indonesia adalah bagaimana caranya dapat membantu menciptakan stabilitas di tengah rivalitas AS – China,” imbuh Marty.

Marty memandang, tiap negara harus menawarkan rekomendasi kebijakan yang pasti. Hal ini perlu dilakukan bukan hanya untuk AS-China, tetapi juga dinamika bilateral di kawasan, seperti China-India dan China-Jepang.

Mantan Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd, menilai ‘perang’ AS-China berbeda dengan konflik Negeri Paman Sam dengan Uni Soviet di masa lalu. Dia tak menampik pandemi menyebabkan sejumlah tantangan geopolitik bagi dunia. Ketegangan dua kekuatan besar ini diharap cepat mereda.

Konflik AS dan China semakin menjadi. Tak hanya perang dagang, pandemi, Taiwan, hingga situasi di Laut China Selatan menjadi masalah. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan Indonesia tetap berada di posisi netral dalam menghadapi konflik dua kekuatan besar tersebut. (ATN)

Tags: Amerika SerikatChinaPerang Dagang Amerika-China
No Result
View All Result

Terbaru

  • California Seeks Strategic Partnership with Indonesia
  • Indonesia’s Geothermal Future Put to the Test in NTT
  • FBI Joins Indonesia Corruption Probe as Gold and Millions in Cash Raise Global Scrutiny
  • Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert
  • Global Waste-to-Energy Giants Enter Indonesia’s Green Infrastructure Race
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.