• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Atasi Pemanasan Global, Pemerintah di Dunia harus Tingkatkan Dana Emisi Karbon

by Redaksi Asiatoday
March 4, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 1 min read
A A
0
Tekan Emisi Karbon, Indonesia Hadapi 5 Tantangan Besar

Salah satu sumber emisi karbon terbesar dari Pembangkit listrik berbasis Batubara. ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemerintah dunia didesa untuk meningkatkan dana emisi karbon dioksida secara signifikan untuk mencegah pemanasan global.

Menurut konsultan energi Wood Mackenzie Ltd, untuk menghentikan kenaikan suhu global di atas 1,5 derajat Celcius dari tingkat pra-industri, harga karbon harus melonjak menjadi USD160 per ton pada 2030, naik dari rata-rata global USD22 pada akhir tahun lalu.

Dunia industri telah menghasilkan karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya lebih cepat daripada yang dapat ditampung selama berabad-abad.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Untuk mengendalikan suhu di bawah 1,5 derajat Celcius, seperti yang dijanjikan oleh negara-negara dalam Perjanjian Paris, pemerintah telah mencoba untuk mengurangi emisi melalui apa yang dikenal sebagai penetapan harga karbon, pendekatan yang mengenakan pajak atas karbondioksida yang dikeluarkan atau menciptakan pasar untuk memperdagangkan izin mencemari lingkungan.

Harga izin karbon baru-baru ini naik ke rekor tertinggi di Eropa di tengah pembelian spekulatif dan upaya pembuat kebijakan untuk menurunkan emisi, tetapi negara-negara Asia tertinggal.

Jepang sedang mempertimbangkan untuk merevisi pajak karbonnya, yang merupakan salah satu yang terendah di dunia. Di China, perdagangan karbon online akan dimulai pada akhir Juni.

WoodMac dalam laporannya mengatakan pemerintah memerlukan kebijakan karbon untuk mendorong industri mengadopsi opsi energi yang lebih ramah lingkungan, seperti hidrogen.

Hal itu dapat dicapai melalui harga karbon, insentif langsung atau kebijakan pajak. Harga CO2 yang lebih tinggi dapat mendorong perusahaan untuk mengurangi keluaran mereka melalui penangkapan karbon, yang kemudian dapat didaur ulang menjadi produk baru, yang berpotensi menjadi industri triliun dolar.

“Mencapai 1,5 derajat tidak mungkin dilakukan tanpa menangkap, menyimpan dan menggunakan volume CO2 yang besar,” kata analis WoodMac Tom Heggarty, dikutip dari Bloomberg, Kamis (4/3/2021).

Dia melanjutkan, ada peluang untuk mengkomersialkan dan menggunakan karbon yang ditampung. (ATN)

Tags: Climate ChangeEmisi KarbonGlobal WarmingPemanasan GlobalPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.