• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

ADB Coret Indonesia dari Proyeksi Negara di Asia yang Ekonominya Melejit

by Redaksi Asiatoday
January 10, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
ADB Kucurkan Rp1,27 Triliun Danai Proyek Akuntabilitas Publik di Indonesia

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Asian Development Bank (ADB) memproyeksi sejumlah negara di Asia akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat.

Sayangnya, dari proyeksi itu, Indonesia tidak termasuk didalamnya.

Menurut ADB, gejolak global akibat perang dagang AS dan China yang berkepanjangan justru membawa berkah bagi beberapa negara di Asia. Bahkan, diprediksi pertumbuhan ekonominya pada 2020 ini menjadi yang tercepat.

RelatedPosts

Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed

Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls

Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA

Negara apa saja itu, berikut daftarnya seperti dilansir dari Forbes, Jumat (10/01/2020).

(1) Bangladesh

Pertumbuhan ekonomi Bangladesh diperkirakan tembus 8 persen pada tahun ini dari meningkatnya investasi asing di sektor tekstil, garmen, dan alas kaki. Sejak 2011 lalu, Bangladesh mencatat pertumbuhan ekonomi sedikitnya 6 persen per tahun.

Peningkatan investasi asing Bangladesh, utamanya karena upah rata-rata yang relatif rendah, yakni US$101 per bulan. Selain itu, tingginya permintaan dan meningkatnya standar hidup menjadi faktor penopang pertumbuhan negara di selatan Asia itu.

Kepala Ekonomi Asia Pasifik IHS markit mengatakan investasi asing langsung (FDI) naik 19,5 persen menjadi US$1,7 miliar pada paruh pertama 2019. Hal ini juga dikarenakan naiknya peringkat kemudahan berbisnis di Bangladesh.

(2) India

Ekonomi India ditargetkan tumbuh 7,2 persen. India harus mengejar target itu untuk menjadi lokomotif baru sektor manufaktur, termasuk elektronik.

Meskipun, pertumbuhan ekonomi itu pun masih lebih lambat dibandingkan 2016 lalu yang sebesar 8,17 persen.

(3) Tajikistan

Pertumbuhan ekonomi negara di Asia Tengah, Tajikistan, diperkirakan setidaknya 7 persen pada 2020. Faktor penopang ekonomi negara sempalan Uni Soviet tersebut berasal dari tambang emas dan perak, pemrosesan logal, termasuk pengiriman uang (remitansi) dari sekitar 1 juta warganya yang tinggal di luar negeri.

Produk Domestik Bruto (PDB) Tajikistan pada 2016 lalu, yakni 6,9 persen dan meningkat menjadi 7,1 persen pada tahun berikutnya. Pada 2018 lalu, ekonominya tumbuh 7,3 persen.

“Industri dan jasa telah memimpin pertumbuhan ekonomi Tajikistan, seiring dengan meningkatnya permintaan domestik yang kuat,” tulis Bank Dunia.

(4) Myanmar

PDB Myanmar memang cuma US$67 miliar. Namun, pertumbuhan negara ini diproyeksi paling tidak 6,8 persen pada 2020. Proyeksi ini datang dari pesatnya pertumbuhan manufaktur Myanmar dalam lima tahun terakhir, yang mendorong ekonominya melesat.

Myanmar telah mengadopsi reformasi ekonominya demi menarik lebih banyak investasi. Akibatnya, pertumbuhan pengeluaran infrastruktur dan belanja konsumen mengekor setelah investasi pabrik di negara tersebut.

Reformasi ekonomi itu membuat Myanmar mencetak pertumbuhan 6,5 persen setiap tahun dalam tiga tahun belakangan.

(5) Kamboja

Pertumbuhan ekonomi Kamboja diperkirakan mencapai 6,8 persen pada 2020. Investasi China di Kamboja di sebut-sebut menjadi motor pertumbuhan PDB negara Asia Tenggara berpenduduk 16,5 juta orang tersebut.

Investasi China di Myanmar meliputi produksi tekstil dan garmen, real estate, resor, serta infrastruktur, seperti jalan dan bandara.

Diperkirakan investasi China mencapai US$2 miliar dalam pembangunan infrastruktur Kamboja pada 2018 lalu.

(6) Vietnam

Vietnam diperkirakan meraup pertumbuhan ekonomi hingga 6,7 persen pada akhir tahun ini. Negara di Asia Tenggara ini mencatat pertumbuhan paling sedikit 6 persen sejak 2012 lalu.

Adapun, faktor yang menopang pertumbuhan ekonomi Vietnam adalah manufaktur bernilai tambah, seperti elektronik. Selain itu juga lonjakan investasi asing langsung sebesar 69,1 persen menjadi US$16,74 miliar dalam lima bulan pertama tahun lalu.

Lonjakan investasi asing itu tak terlepas dari perang dagang AS dan China yang membuat produsen-produsen di China mengalihkan banyak pabrik ke Vietnam.

Negara-negara berkembang Asia lainnya yang diperkirakan ADB tumbuh lebih dari 6 persen, yakni Nepal dan Maladewa, dengan pertumbuhan masing-masing 6,3 persen.

Sementara, ekonomi Laos dan Filipina diproyeksi bertumbuh 6,2 persen dan 6,1 persen. ADB tidak sama sekali menyebutkan Indonesia dalam daftar negara Asia dengan pertumbuhan kencang pada tahun depan. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: ADBAsiaAsian Development BankEkonomi Asia PasifikPertumbuhan AsiaPertumbuhan Ekonomi
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.