• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Asia Butuh Investasi US$800 Miliar Agar Mencapai Kemandirian Pangan

by Redaksi Asiatoday
November 23, 2019
in Business
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Asia Butuh Investasi US$800 Miliar Agar Mencapai Kemandirian Pangan

Petani Padi sawah di Indonesia. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Industri makanan dan pertanian Asia diperkirakan membutuhkan investasi tambahan sebesar US$800 miliar selama 1 dekade ke depan agar mencapai kemandirian pangan.

Menurut laporan yang dirilis oleh PwC, Rabobank dan Temasek Holdings Pte, perusahaan investasi negara Singapura, pertumbuhan populasi, perubahan kebutuhan konsumen dan perubahan iklim adalah beberapa tantangan pangan di kawasan ini.

Mengutip PBB dan Perkembangan Ekonomi Global yang disusun Brookings, Asia mengalami urbanisasi dengan cepat, dan pada tahun 2030 akan menjadi rumah bagi lebih dari 250 juta jiwa, setara dua kali populasi Indonesia.

RelatedPosts

Indonesia Seeks Bigger Eurasian Role After Securing Top Partner Status at Russia’s INNOPROM 2026

ADB Unleashes $100 Million Digital Bond to Power Asia’s Next Economic Revolution

Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens

Peningkatan jumlah populasi itu diikuti dengan kebutuhan pangan yang semakin besar terhadap makanan sehat yang berasal dari sumber yang berkelanjutan dan etis.

“Dari seluruh investasi, sekitar US$550 miliar, akan mendanai kebutuhan inti pemenuhan pangan, sedangkan US$250 miliar lainnya adalah untuk menyediakan jumlah makanan yang meningkat untuk populasi yang terus bertambah,” tulis laporan tersebut, dikutip melalui Bloomberg, Sabtu (23/11/2019).

Tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, Asia masih bergantung pada impor yang mengalir melalui rantai pasokan panjang dari Amerika, Eropa dan Afrika.

Mengutip Organisasi Pangan & Pertanian, impor bersih makanan telah meningkat tiga kali lipat sejak pergantian abad, dan sekarang mencapai sekitar 220 juta ton per tahun.

Kebutuhan pangan tersebut diperkirakan akan mendorong pengeluaran lebih dari dua kali lipat untuk kebutuhan pangan selama 1 dekade berikutnya.

Pengeluaran untuk makanan di kawasan ini diperkiakan akan meningkat menjadi lebih dari US$8 triliun pada 2030 dari US$4 triliun tahun ini.

Ketika populasi meningkat, masalah keamanan pangan, pasokan, menipisnya sumber daya alam, dan ketersediaan tanah dan air yang subur menjadi semakin penting.

“Diperlukan perubahan mendasar di seluruh rantai pasokan pangan di Asia untuk memungkinkan dan mempertahankan ketahanan pangan di kawasan ini,” kata Anuj Maheshwari, direktur pelaksana agribisnis di Temasek.

Dia menambahkan bahwa ada peluang besar bagi perusahaan rintisan atau start-up, pebisnis, dan pemerintah untuk bekerja sama dalam menciptakan solusi inovatif.

Singapura, Tokyo, Beijing, dan Mumbai adalah beberapa kota di Asia yang berpotensi menjadi pusat teknologi pertanian pangan, menurut laporan itu.

Di samping inisiatif lainnya, Singapura sedang berencana untuk mendirikan lembaga penelitian baru pada paruh pertama 2020,

Koh Poh Koon, menteri senior di Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura mengatakan lembaga penelitian ini akan melakukan riset pada beberapa topik penting seperti angan, gizi, kesehatan masyarakat, bioteknologi dan keamanan pangan.

Di sisi lain, laporan ini juga menggarisbawahi tantangan lain bagi ketahanan pangan di kawasan Asia.

Tren saat ini menunjukkan pertumbuhan populasi dan urbanisasi telah menyebabkan pemborosan yang tinggi dan kualitas yang buruk karena adanya disrupsi pada rantai pasokan.

Asia diperkirakan mengalami dampak yang paling parah dari perubahan iklim dan degradasi lingkungan, mempengaruhi ketersediaan lahan subur, panen pertanian, memperburuk tantangan produksi. (AT Network).

,’;\;\’\’
Tags: Asia TerkiniKrisis PanganPangan DuniaSwasembada Pangan
No Result
View All Result

Terbaru

  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • Indonesia Seeks Bigger Eurasian Role After Securing Top Partner Status at Russia’s INNOPROM 2026
  • Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals
  • Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen
  • Bangladesh’s Banking Crisis Deepens as World Bank Unveils $450 Million Rescue Package
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.