ASIATODAY.ID, JAKARTA – Perusahaan minyak dan gas (Migas) British Petroleum (BP) memberikan perhatian besar terhadap konservasi lingkungan, baik di sekitar wilayah operasi Tangguh di Bintuni maupun provinsi Papua Barat.
British Petroleum sendiri merupaka kontraktor pemerintah dalam mengoperasikan Tangguh LNG di Kabupaten Bintuni, Papua Barat.
Menurut Communications advisor Indonesia, Wigra Hanafiah, berdasarkan SK Menteri Kehutanan tahun 2004, pemerintah telah menyiapkan lahan seluas 3.380 hektare (ha) untuk operasi Tangguh LNG.
“Adapun lahan yang digunakan untuk Tangguh Train 1, 2 dan 3 tidak lebih dari 650 ha, termasuk di dalamnya penggunaan 8 ha hutan bakau (Mangrove) untuk membangun Tangguh,” kata Wigra Hanafiah, Rabu (19/4/2023).
Meski hanya menggunakan sekitar 650 ha, Tangguh LNG didukung penuh SKK Migas, telah merehabilitasi lebih dari 1.320 ha hutan di Weriagar dan Kamundan, Kabupaten Bintuni. Luas tersebut, lebih dari dua kali luasan lahan yang digunakan untuk operasi Tangguh LNG. Sebagian besar dari 1.320 ha tersebut merupakan hutan bakau.
Tindakan rehabilitasi yang telah dilakukan oleh Tangguh LNG, telah diakui dan mendapat apresiasi dari pemerintah, termasuk dari Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup (LHK) Siti Nurbaya. Apresiasi disampaikan Menteri LHK dalam webinar Rehabilitasi DAS (Daerah Aliran Sungai) pada tanggal 12 Oktober 2021.
Lebih dari 80% pekerja yang terlibat dalam proses penanaman dan pemeliharan lahan rehabilitasi tersebut berasal dari masyarakat setempat. Selain itu, Tangguh LNG sedang mempersiapkan tahapan selanjutnya untuk rencana rehabilitasi hutan seluas 1.888 ha di Kabupaten Bintuni dan Sorong Selatan.
Kemudian, dilanjutkan lagi dengan tahap rehabilitasi selanjutnya seluas 3.776 ha, sesuai dengan komitmen bersama BP dengan pemerintah, seperti dinyatakan dalam dokumen Amdal (Analisis mengenai Dampak Lingkungan) Tangguh.
“Luas lahan yang akan kami rehabilitasi mencapai 6.984 ha,” jelasnya.
Pemenuhan kewajiban Tangguh LNG untuk menjaga lingkungan juga didukung penuh oleh SKK Migas dan di bawah pengawasan ketat dari para lenders Tangguh LNG dan instansi lain terkait, termasuk Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK). Dukungan tersebut bukan hanya dalam bentuk bantuan untuk program rehabilitasi hutan, melainkan juga membantu keberhasilan Tangguh dalam menjalankan program-program pemeliharaan lingkungan yang lain seperti beberapa survei berkala.
Survei tersebut diantaranya, survei keanekaragaman hayati di lingkungan operasi Tangguh LNG, termasuk survei perikanan dan mamalia laut serta survei flora dan fauna.
Selain itu, Tangguh menerima penghargaan Proper Award dari KLHK dengan status Hijau di tahun 2018, 2019, 2020 dan 2021. Hal ini berarti pengelolaan lingkungan yang Tangguh lakukan telah melebihi yang dipersyaratkan oleh pemerintah. (ATN)
Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News