• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Bumi Makin Panas, Tak Ada Lagi Salju Indah di Puncak Gunung

by Redaksi Asiatoday
August 28, 2019
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Bumi Makin Panas, Tak Ada Lagi Salju Indah di Puncak Gunung

Pendaki Gunung Alpen menyaksikan Salju di puncak Gunung Alpen. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Para pendaki di Pegunungan Alpen menghadapi kenyataan yang menyedihkan : Tak ada lagi pemandangan salju yang indah.

Di area Mont Blanc, magnet bagi pendaki di musim panas, rute pendakian menjadi lebih berbahaya karena banyak batu berjatuhan dari puncak.

“Perubahan ini berlangsung dengan cepat. Sepuluh tahun yang lalu, saya tidak pernah berpikir bahwa kondisi ini akan menjadi seperti ini,” kata Ludovic Ravanel, seorang akademisi di Universitas Savoie Mont Blanc yang telah mempelajari guguran batu di area tersebut.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

“Dan jika Anda melihat prediksi dari rekan klimatologis saya, selama 10 hingga 20 tahun ke depan kondisi ini akan menjadi lebih buruk,” ujarnya kepada AFP, disitat Rabu (28/8/2019).

Di banyak daerah di barat Eropa, perubahan iklim terlalu lambat terjadi, meskipun terjadi dua gelombang panas yang memecahkan rekor pada bulan Juni dan Juli di musim panas ini yang diikuti oleh bencana kekurangan air.

Di sekitar Mont Blanc, pemanasan global telah meninggalkan bekas fisik di alamnya.

Pada tahun 2005, setelah gelombang panas besar terjadi dua tahun sebelumnya, serpihan granit besar yang disebut pilar Bonatti tiba-tiba runtuh, memuntahkan 292 ribu m3 batu ke lembah di bawah dan memukau komunitas gunung.

Pemandangan melelehnya salju dari Mont Blanc terlihat dari Chamonix, kota resor terdekat. Impian pendaki untuk mengikuti rute yang dilalui pendaki legendaris asal Italia, Walter Bonatti, seakan pupus sudah.

Ravanel mengatakan kalau guguran batu diakibatkan salju abadi yang biasanya merekatkan mereka, permafrost, sekarang meleleh.

Hilangnya Pendakian Legendaris

Kekhawatiran tentang dampak musim dingin yang lebih pendek dan musim panas yang lebih panjang adalah hal biasa di bisnis ski yang menghidupi kota-kota kecil di kaki Pegunungan Alpen.

Hingga saat ini kelompok pemandu dan pendaki terus membahas jalan keluar pendakian yang lebih aman dari guguran batu.

Seorang pemandu berusia 40 tahun dari kota terdekat, Thonon, memiliki kisah menakutkan saat mendaki area Aiguille du Peigne di daerah Chamonix.

“Batu-batu di sana mulai bergetar sebelum akhirnya berjatuhan,” katanya.

“Sepertinya saya tidak akan ke sana dulu dalam waktu dekat.”

Pemandu pendakian yang berusia rata-rata 30 tahun mengaku khawatir dengan masa depan karier mereka jika kondisi buruk ini terus terjadi.

“Tak bisa lagi memprediksi jadwal pendakian. Dulu pada bulan Juni kami bisa melakukan pendakian. Sekarang tidak terlalu sering. Lalu pada bulan Juli, lupakan saja yang namanya pendakian,” ujar Remi.

Temannya, yang menolak menyebutkan namanya, mengatakan bahwa musim semi menjadi periode pendakian paling ramai dibanding musim panas.

“Sebaiknya datang sebelum bulan Juli-Agustus,” katanya, yang juga menambahkan bahwa dirinya harus menghindari rute legendaris karena tak lagi aman.

Rute yang Menghilang

Rute pendakian populer di Pegunungan Alpen ditulis dalam buku yang terbit pada tahun 1973 oleh pendaki terkenal Gaston Rebuffat yang berjudul ‘100 Most Beautiful Routes’.

Ravanel dan rekan-rekannya menganalisis rute tersebut yang telah berubah drastis dalam selama lima puluh tahun.

Mayoritas dari rute-rute ini telah dipengaruhi oleh perubahan iklim, menyimpulkan studi pada bulan Juni, termasuk 26 rute yang “rawan punah” dan tiga lagi sudah punah.

Tim spesialis gunung di Universitas Savoie Mont Blanc menilai jadwal pendakian yang optimal telah pindah ke musim semi dan musim gugur.

Sementara rute pada umumnya menjadi lebih berbahaya dan secara teknis lebih sulit.

Bagi para pemandu, kondisi yang tidak dapat diprediksi membuat pekerjaan yang memang berbahaya ini menjadi lebih menegangkan.

Tetapi beberapa tertarik menikmatinya selagi bisa. “Saya mulai menerima beberapa hal,” kata Yann Grava (33) yang akan menyelesaikan pelatihannya untuk menjadi pemandu tahun depan.

“Rata-rata, seorang pemandu dulu bisa bekerja selama sekitar 15 tahun, tapi bagiku kurasa sekitar 10 tahun. Gunung-gunung akan hilang,” imbuhnya. (AFP/AT)

,’;\;\’\’
Tags: AlpenClimate ChangeClimate CrisisClimate EmergencyEverestIklim GlobalPemanasan GlobalPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.