ASIATODAY.ID, NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat (AS) rebound atau berakhir lebih tinggi pada penutupan perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), karena Wall Street mencoba untuk pulih dari aksi jual tajam di sesi sebelumnya. Meski demikian, pandemi covid-19 masih menjadi persoalan yang terus menekan gerak pasar saham.
Menyitat Xinhua, Sabtu (13/6/2020), indeks Dow Jones Industrial Average melonjak sebanyak 477,37 poin atau 1,90 persen menjadi 25.605,54. Sedangkan S&P 500 menguat sebanyak 39,21 poin atau 1,31 persen menjadi 3.041,31. Indeks Komposit Nasdaq naik 96,08 poin atau 1,01 persen menjadi 9.588,81.
Saham Boeing melonjak lebih dari 11 persen, memimpin kenaikan dalam rata-rata 30-saham. Sebanyak delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir lebih tinggi, dengan sektor keuangan dan material naik 1,36 persen dan 1,32 persena. Sedangkan sektor utilitas menurun 0,2 persen, kelompok dengan kinerja terburuk.
Sebelumnya, Wall Street mengalami hari terburuk dalam hampir tiga bulan pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB). Dow Jones jatuh lebih dari 1.800 poin di tengah aksi jual pasar yang luas. Kondisi tersebut terjadi di tengah naiknya jumlah infeksi covid-19 di Amerika Serikat (AS) ketika ekonomi mulai kembali dibuka.
Pada Jumat, 12 Juni 2020, indeks Dow merosot 1.861,82 poin atau 6,9 persen menjadi 25.128,17. Sedangkan S&P 500 merosot 188,04 poin atau 5,89 persen menjadi 3.002,1. Kemudian Nasdaq turun 527,62 poin atau 5,27 persen menjadi 9.492,73. Rata-rata saham utama membukukan hari terburuk mereka sejak pertengahan Maret.
Semua 11 sektor utama di S&P 500 berakhir lebih rendah, dengan sektor energi dan keuangan masing-masing turun 9,45 persen dan 8,18 persen, memimpin penurunan.
Indeks Volatilitas Cboe, yang secara luas dianggap sebagai pengukur ketakutan terbaik di pasar saham, melonjak hampir 48 persen menjadi 40,79.
Sementara itu, Kurs dolar Amerika Serikat (USD) kian kokoh pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB). Penguatan di mata uang Paman Sam terjadi karena para pedagang terus mencari tempat berlindung yang aman di tengah kekhawatiran percepatan kembali dalam kasus-kasus virus corona.
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,6 persen pada 97,3046, menyusul kenaikan 0,77 persen di sesi sebelumnya. Di akhir perdagangan New York, euro jatuh ke USD1,1234 dari USD1,1301 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun jadi USD1,2492 dari USD1,2595 pada sesi sebelumnya.
Dolar Australia jatuh ke USD0,6843 dibandingkan dengan USD0,6847. Dolar AS membeli 107,44 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 106,80 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9542 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9431 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3612 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3605 dolar Kanada.
“Kenaikan tiba-tiba dalam tingkat infeksi di beberapa bagian AS telah menyebabkan kekhawatiran gelombang kedua covid-19 dan memicu koreksi pasar yang signifikan,” kata Analis Commerzbank Research Thu Lan Nguyen, dalam sebuah catatan.
“Reaksi ini dapat dimengerti karena wabah virus yang baru mungkin akan mengarah pada kuncian baru yang pada gilirannya akan memiliki efek yang tidak pasti pada perekonomian,” tambah Nguyen.
Data terbaru dari Universitas Johns Hopkins pada Kamis 11 Juni 2020 menyebutkan korban positif virus corona covid-19 di Negeri Paman Sama telah mencapai 2.000.464. Sementara korban tewas dilaporkan berada di angka 112.924 orang dan warga yang sembuh mencapai 533.504 orang.
Berdasarkan data tersebut, AS tetap teratas sebagai negara dengan jumlah total kasus positif dan kematian. Brasil berada di bawah AS.
“Sebanyak 21 negara bagian mencatat jumlah kasus covid-19 tertinggi mereka minggu ini, dengan banyak terkonsentrasi di negara-negara bagian barat dan barat daya Arizona, New Mexico, Texas dan Utah,” lapor VOA.
“Peningkatan terjadi di tengah melonggarnya pembatasan gerak pada saat wabah covid-19 dalam beberapa minggu terakhir. Termasuk liburan Hari Peringatan tahunan yang menandakan dimulainya musim liburan musim panas,” imbuh VOA. (ATN)
