• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Efek Covid-19, Kemiskinan Ekstrem Global dan Ketimpangan Sosial Makin Tajam

by Redaksi Asiatoday
October 8, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Kurangi Utang, Cara Negara Keluar dari Kemiskinan

Presiden World Bank David Malpass. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pandemi coronavirus (Covid-19) kian mempertajam kemiskinan global dan ketimpangan sosial.

Presiden Grup Bank Dunia David Malpass mengungkapkan, pandemi telah memperlambat upaya pengentasan kemiskinan. Dalam laporannya, Bank Dunia memperkirakan 88 juta hingga 115 juta orang akan terdorong ke dalam kemiskinan ekstrem tahun ini, dan akan meningkat menjadi 150 juta pada 2021, tergantung pada tingkat keparahan kontraksi ekonomi.

Kemiskinan ekstrem, yang didefinisikan sebagai orang dengan penghasilan kurang dari USD1,90 per hari, kemungkinan besar akan mempengaruhi antara 9,1 persen dan 9,4 persen populasi dunia pada 2020.

RelatedPosts

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme

Angka ini akan mewakili kemunduran ke tingkat 9,2 persen pada 2017. Jika pandemi tidak mengguncang dunia, tingkat kemiskinan diperkirakan akan turun menjadi 7,9 persen tahun ini.

“Pandemi dan resesi global dapat menyebabkan lebih dari 1,4 persen populasi dunia jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem,” kata Malpass dalam keterangannya, dikutip Kamis (8/10/2020).

Untuk membalikkan kemunduran serius pada kemajuan pembangunan dan pengurangan kemiskinan, negara-negara perlu mempersiapkan ekonomi yang berbeda pascapandemi dengan mengizinkan modal, tenaga kerja, keterampilan, dan inovasi untuk pindah ke bisnis dan sektor baru.

Selain itu, krisis Covid-19 juga telah mengurangi kesejahteraan umum yang didefinisikan sebagai pertumbuhan pendapatan 40 persen penduduk termiskin suatu negara.

Kesejahteraan global rata-rata diperkirakan stagnan atau bahkan menyusut selama 2019-2021 karena penurunan pertumbuhan pendapatan rata-rata. Perlambatan dalam kegiatan ekonomi yang diperparah oleh pandemi kemungkinan besar akan melanda orang-orang yang paling miskin dan ini dapat menyebabkan indikator kesejahteraan umum yang lebih rendah di tahun-tahun mendatang.

Hal ini menunjukkan bahwa tanpa tindakan kebijakan, krisis pandemi dapat memicu siklus ketimpangan pendapatan yang lebih tinggi, mobilitas sosial yang lebih rendah diantara mereka yang rentan, dan ketahanan yang lebih rendah terhadap guncangan di masa depan.

Bank Dunia juga menemukan bahwa banyak orang miskin baru akan berada di negara-negara yang telah memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi. Namun 82 persen dari total kemiskinan ekstrem diperkirakan akan berada di negara-negara berpenghasilan menengah.

Bank Dunia juga memperkirakan, pada 2030 mendatang angka kemiskinan masih akan berada di angka sekitar 7 persen. Artinya, target pengentasan kemiskinan pada 2030 tidak akan tercapai.

Kemajuan melambat bahkan sebelum krisis Covid-19. Data kemiskinan global untuk 2017 menunjukkan bahwa 52 juta orang keluar dari kemiskinan antara tahun 2015 dan 2017.

Namun terlepas dari kemajuan ini, laju pengurangan melambat menjadi kurang dari setengah poin persentase per tahun antara 2015 dan 2017. Kemiskinan global telah turun di tingkat sekitar 1 poin persentase per tahun antara 1990 dan 2015.

Bank Dunia menyerukan tindakan kolektif untuk memastikan kemajuan bertahun-tahun dalam pengentasan kemiskinan tidak terhapus.

Upaya untuk menghadapi kemiskinan yang disebabkan oleh Covid-19 juga menghadapi ancaman yang secara tidak proporsional berdampak pada kaum miskin dunia pada saat yang sama, terutama konflik dan perubahan iklim. (ATN)

Tags: Kemiskinan IndonesiaKetimpangan EkonomiWorld Bank
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.