• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 24, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Efek Konflik Rusia-Ukraina, Ekspor Baja Krakatau Steel Melejit ke Uni Eropa

by Redaksi Asiatoday
April 14, 2022
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Krakatau International Port (KIP) Dirancang Jadi Hub di Asia Pasifik

Krakatau International Port (KIP). Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Konflik Rusia dan Ukraina berefek pada tingginya permintaan baja Indonesia dari Uni Eropa (UE).

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) melaporkan adanya peningkatan permintaan baja yang signifikan dari sejumlah negara Uni Eropa di tengah pembatasan impor produk asal Rusia pada awal tahun ini.

Menurut Direktur Komersial Krakatau Steel, Melati Sarnita, krisis yang berawal di kawasan Eropa Timur membuka peluang kepada produsen baja di Indonesia untuk melakukan penetrasi pasar ke sejumlah negara yang selama ini bergantung pada produk besi dan baja dari Rusia dan Ukraina.

RelatedPosts

Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens

Indonesia’s $2.5 Billion Nickel Bet Faces Global ESG Test as Investment Boom Accelerates

Trois Films and South Korea’s JJan E&M Forge Strategic Partnership in Film Industry

“Saat ini permintaan baja dari negara Uni Eropa terutama Italia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penjualan ekspor KRAS ke Italia pada kuartal pertama 2022 yang mengalami peningkatan sebesar 197 persen menjadi 59 ribu ton dibandingkan kuartal pertama 2021 yang sebesar 20.000 ton,” kata Melati melalui keterangan tertulisnya, Kamis (14/4/2022).

Sebelum adanya krisis di kawasan Eropa Timur itu, KRAS mencatatkan ekspor pada 2021 sebesar 262.000 ton untuk produk Hot Rolled Coil (HRC) dan Hot Rolled Pickled Oil (HRPO) ke Malaysia, Australia, dan sejumlah negara Eropa seperti Italia, Belgia, Portugal dan Spanyol.

Saat itu, penjualan KRAS ke negara Eropa mencapai 85.000 ton. Setelah perang pecah dan hambatan dagang dikenakan untuk Rusia, sejumlah negara termasuk Uni Eropa tengah mencari alternatif lain untuk impor produk besi dan baja.

KRAS telah menentukan pasar baru untuk ekspor besi dan baja pada tahun ini seperti Pakistan, Vietnam, Turki, Yunani, dan Mesir.

“Hingga Maret 2022, KRAS berhasil melakukan penjualan ekspor sebesar 180.000 ton dan diperkirakan akan mencapai 250.000 ton hingga akhir April 2022,” jelasnya.

Meski demikian, dia menegaskan KRAS akan tetap berfokus untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik terlebih dahulu sebelum melakukan ekspor.

“Penjualan ekspor merupakan penyeimbang dan alternatif lain untuk mendorong penjualan KRAS,” imbuhnya.

Berdasarkan catatan Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) hingga April 2022, peluang pasar ekspor Indonesia terbuka lebar setelah Komisi Uni Eropa melarang impor produk baja dari Rusia dan Belarusia. Kuota impor yang biasanya diberikan kepada Rusia dan Belarusia akan dialokasikan kepada negara lainnya.

Sebelumnya, Komisi Uni Eropa telah mengumumkan kuota periode dari April sampai Juni 2022 untuk Rusia sebesar 412.317 ton HRC, 59.311 ton rebar, 82.008 ton wire ROD, 23.603 ton hollow section dan 6.538 ton large welded tube. Sementara itu, kuota impor untuk Belarusia di antaranya 65.026 ton wire ROD dan 13.947 ton hollow section.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menegaskan kinerja neraca perdagangan bakal tetap menguat di tengah sentimen geopolitik global hingga paruh pertama tahun ini. Kemendag tengah menjajaki peluang perluasan ekspor ke Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa setelah terbitnya larangan impor sebagian besar komoditas asal Rusia.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag Kasan mengatakan langkah itu dilakukan untuk menjaga kinerja neraca perdagangan tetap surplus di tengah beban inflasi dan ongkos perdagangan internasional yang relatif tinggi.

“Pangsa pasar Rusia di negara-negara tersebut merupakan peluang bagi produk ekspor Indonesia untuk diversifikasi pasar ekspor. Kemendag saat ini tengah menjajaki peluang pasar yang sebelumnya diisi produk Rusia,” kata Kasan, Kamis (14/4/2022). (ATN)

Tags: Ekspor BajaIndustri BajaKerjasama Indonesia-Uni EropaKrakatu Steel
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Bets on AI to Fix Healthcare Gaps, But Risks Leaving Vulnerable Workers Behind
  • Indonesia Flags Trafficking, Extortion Risks at Singapore-Malaysia Gateway
  • Indonesia Targets Eastern Europe Through Bulgaria
  • Indo-Pacific Seen as Stability Buffer as Global Geopolitical Risks Rise, Indonesia Says
  • UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.