• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Ekonomi di Asia Rontok akibat Pandemi Covid-19

by Redaksi Asiatoday
April 16, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
ADB: Pandemi Global Coronavirus Kian  Menggerus Ekonomi di Asia Timur

Markas Asian Development Bank (ADB). Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Imbas pandemi coronavirus (Covid-19) merontokkan ekonomi di Asia.

Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) memproyeksi pertumbuhan ekonomi di Asia hanya berkisar 2,2 persen pada 2020, atau turun dari 3,3 poin persentase relatif terhadap 5,5 persen yang diperkirakan ADB pada September 2019.

Pertumbuhan diperkirakan akan meningkat menjadi 6,2 persen pada 2021, dengan asumsi bahwa wabah berakhir dan aktivitas menjadi normal.

RelatedPosts

Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed

Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls

Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA

Jika mengecualikan Hong Kong, China, Republik Korea, Singapura, dan Taiwan, negara berkembang Asia diperkirakan akan tumbuh 2,4 persen tahun ini, dibandingkan dengan 5,7 persen pada 2019, sebelum rebound menjadi 6,7 persen tahun depan.

“Evolusi pandemi global sangat tidak pasti. Pertumbuhan bisa menjadi lebih rendah dan pemulihannya lebih lambat dari yang kami perkirakan saat ini. Untuk alasan ini, diperlukan upaya yang kuat dan terkoordinasi untuk mengendalikan pandemi Covid-19 dan meminimalkan dampak ekonominya, terutama pada yang paling rentan,” kata Kepala Ekonom ADB Yasuyuki Sawada, melalui keterangan tertulisnya, Selasa (7/4/2020).

Di China, kontraksi tajam dalam industri, layanan, penjualan ritel, dan investasi pada kuartal pertama karena wabah Covid-19 akan menurunkan ekonomi ke angka 2,3 persen tahun ini. Pertumbuhan akan pulih ke level di atas normal 7,3 persen pada 2021.

Di India, langkah-langkah untuk menahan penyebaran virus akan mengimbangi manfaat dari pemotongan pajak baru-baru ini dan reformasi sektor keuangan. Pertumbuhan di India diperkirakan melambat menjadi 4,0 persen pada tahun fiskal 2020 sebelum menguat menjadi 6,2 persen pada 2021.

Menurut analisis ADB, faktor yang mendasari banyak kelemahan di Asia adalah lingkungan eksternal yang memburuk, dengan pertumbuhan mandek atau menyusut pada ekonomi industri utama Amerika Serikat, kawasan Euro, dan Jepang.

Beberapa eksportir komoditas dan minyak, seperti yang ada di Asia Tengah, akan dilanda kejatuhan harga komoditas. Harga minyak Brent diperkirakan rata-rata US$35 per barel tahun ini, turun dari US$64 pada 2019.

Semua sub regional Asia yang sedang berkembang pertumbuhannya akan melemah tahun ini karena permintaan global yang turun, dan di beberapa negara karena wabah domestik serta kebijakan karantina. Sub region yang lebih terbuka secara ekonomi seperti Asia Timur dan Tenggara, atau yang tergantung dengan sektor pariwisata seperti Pasifik, akan sangat terpukul.

“Aktivitas ekonomi di subregion Pasifik diperkirakan akan berkontraksi sebesar 0,3 persen pada 2020 sebelum pulih menjadi 2,7 persen pada 2021,” paparnya.

Sementara itu, biaya global untuk menangani pandemi ini dapat berkisar antara USD2,0 triliun hingga USD4,1 triliun, setara dengan kerugian antara 2,3 persen hingga 4,8 persen dari produk domestik bruto global.

“Perkiraan ini mencerminkan sifat pandemi global, penggunaan kebijakan karantina dan larangan perjalanan yang masif di seluruh dunia, dan data tentang bagaimana wabah mempengaruhi aktivitas di China,” jelasnya.

Sebagai catatan, proyeksi tersebut tidak memperhitungkan faktor-faktor seperti gangguan pasokan, pengiriman uang yang terputus, biaya perawatan kesehatan yang mendesak, dan potensi gangguan keuangan, serta dampak jangka panjang pada pendidikan dan ekonomi. (AT Network)

Tags: ADBAsia BusinessAsia NewsKrisis EkonomiPertumbuhan AsiaPertumbuhan EkonomiResesi EkonomiResesi Global
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.