ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pencemaran sampah plastik di lautan kian menjadi masalah serius bagi keseimbangan bumi.
Menurut para ahli Ekologi, pada tahun 2030 sebanyak 53 juta metrik ton sampah plastik akan mencemari lautan dan ini membahayakan ekosistem perairan apabila tidak ada perubahan dalam menanggulangi sampah plastik.
Para ahli sedang mempelajari jumlah keseluruhan polusi plastik di ekosistem air di seluruh dunia, dan mereka sangat khawatir setelah menghitung skala dari jumlah aksi yang dibutuhkan bagi umat manusia untuk mengurangi emisi di masa depan dan mengelola apa saja yang sudah mengotori perairan bumi.
“Apabila pertumbuhan produksi dan penggunaan plastik tidak ditahan, maka akan dibutuhkan perubahan mendasar dari perekonomian plastik untuk mengikuti kerangka esensial yang berdasarkan penggunaan ulang produk, dimana hasil akhir produk plastik akan mempunyai nilai jual dibandingkan menjadi limbah saja,” jelas Chelsea Rochman, asisten profesor di departemen Ekologi dan Evolusi Biologi University of Toronto, dikutip dari phys.org, Minggu (20/9/2020).
Rochman juga merupakan seorang penulis senior dalam penelitian yang dipublikasikan oleh Science yang menggaris bawahi bahaya percepatan fase dimana emisi plastik memasuki perairan Bumi tiap tahunnya.
“Bahkan apabila semua negara di dunia mencapai ambisi mereka dalam komitmen global mengenai usaha untuk membatasi polusi plastik dan negara lain ikut dalam usaha tersebut, emisi tahunan global terhadap sungai, danau, dan laut dapat mencapai 53 juta metrik ton di tahun 2030,” jelas Stephanie Borrelle, rekan post doktoral di University of Toronto dan pemimpin penulis dari penelitian tersebut.
“Hal ini melebihi dari angka 8 juta metrik ton dari jumlah total yang dianggap tidak dapat diterima di tahun 2015,” jelasnya.
Penelitian oleh para ahli di grup internasional yang dimpimpin oleh Rochman dan Borelle itu, fokus pada evaluasi mengenai tingkat usaha yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran global untuk pengurangan polusi plastik kurang dari jumlah total 8 juta metrik ton (MT)
Kelompok ini pertama kalinya mengestimasikan terdapat 24-34 juta MT emisi plastik yang saat ini mencemari ekosistem perairan tiap tahunnya.
Mereka kemudian membuat model dan skenario di masa depan menggunakan strategi mitigasi yang berlaku yaitu: mereduksi penggunaan plastik (yang termasuk pelarangan), memperbaiki pengelolaan plastik yang sudah diproduksi, pemulihan lingkungan secara terus menerus.
Lalu para peneliti baru mengetahui bahkan dengan usaha bersama menggunakan tiga solusi yang sudah berlaku, akan membutuhkan usaha yang lebih besar di tiap sektornya: (1) dibutuhkan 25-40 persen pengurangan dalam produksi plastik di semua perekonomian, (2) meningkatkan pengumpulan limbah serta pengelolaannya sebesar 60 persen di seluruh perekonomuan dengan perubahan 6-60 persen pada ekonomi dengan pendapatan rendah; dan (3) pemulihan sebesesar 40 persen dari emisi plastik tiap tahunnya dengan melalui aksi pembersihan.
“Apabila kita mengubah data terakhir dan mengubahnya menjadi data tenaga manusia yang dibutuhkan maka, aksi pembersihan tersebut akan membutuhkan setidaknya 1 miliar orang untuk berpartisipasi dalam acara pembersihan wilayah pesisir laut internasional tiap tahunnya yang diadakan oleh Ocean Conservancy,” jelas Borelle.
“Hal ini menjadi upaya besar-besaran dikarenakan akan dibutuhkan 660 kali usaha lebih apabila dibandingkan dengan apa yang dilakukan di tahun 2019,” lanjutnya.
Tetapi terdapat catatan penelitan, dimana apabila usaha tersebut dapat direalisasikan, Bumi tetap akan dihadapi dengan masa depan yang dipenuhi oleh permasalahan plastik yang luar biasa.
“Komunitas global harus bisa berkoordinasi mengenai perubahan mendasar mengenai ekonomi plastik, dimana cara satu-satunya adalah dengan mengurangi jumlah produksi plastik baru, dan membayangkan ulang bagaimana kita dapat memanfaatkan dan membuang material plastik yang ada,” tandas Rochman. (ATN)
