• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Gelombang Demonstrasi Antiperang Meluas di Amerika Serikat

by Redaksi Asiatoday
March 20, 2023
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Gelombang Demonstrasi Antiperang Meluas di Amerika Serikat

Para pengunjuk rasa berkumpul dalam demonstrasi antiperang di Washington DC, Amerika Serikat (AS), pada 18 Maret 2023. Ratusan pengunjuk rasa berkumpul di luar Gedung Putih di Washington DC pada Sabtu (18/3) sore waktu setempat guna menuntut dihentikannya perang AS yang berkepanjangan dan "Mesin Perang", dua hari sebelum peringatan 20 tahun invasi yang dipimpin AS ke Irak. Foto: Xinhua

ASIATODAY.ID, SAN DIEGO – Sejumlah organisasi antiperang menggelar aksi unjuk rasa di Los Angeles dan San Diego pada Sabtu (18/3) menjelang peringatan 20 tahun invasi Amerika Serikat (AS) ke Irak, yang dimulai pada 20 Maret 2003 silam.

Pertemuan itu terjadi di tengah unjuk rasa antiperang nasional yang diselenggarakan oleh Act Now to Stop War and End Racism (ANSWER Coalition), sebuah kelompok payung unjuk rasa berbasis di AS yang terdiri dari banyak organisasi antiperang serta pengusung hak-hak sipil.

“Kami merasa hari ini merupakan saat yang tepat untuk berkumpul dengan kalangan muda guna membahas isu-isu terkait. Ini memperingati 20 tahun invasi AS ke Irak,” kata Gary Butterfield, seorang veteran, kepada Xinhua.

RelatedPosts

Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed

Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls

Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA

Mengusung berbagai plakat bertuliskan “Biayai kebutuhan rakyat, Bukan mesin perang”, “Bangun sekolah, Bukan bom”, “Jalan menuju perdamaian di Ukraina: Negosiasi, Jangan Eskalasi”, “Demi perdamaian: Bubarkan NATO” dan lain-lain, puluhan pengunjuk rasa berkumpul di depan gerbang Marine Corps Air Station Miramar, 25 kilometer sebelah utara pusat kota San Diego.

Para pengunjuk rasa juga meneriakkan slogan-slogan seperti “Uang untuk pekerjaan dan pendidikan, bukan untuk perang dan pendudukan” dan banyak pengemudi yang melintas membunyikan klakson untuk menunjukkan dukungan.

Butterfield mengatakan pihak berwenang harus menganggarkan sejumlah dana untuk isu-isu pembangunan seperti perawatan kesehatan, perawatan anak, dan pendidikan alih-alih untuk perang dan perlombaan senjata.

Sementara untuk krisis Ukraina, yang telah menunjukkan eskalasi lebih dari setahun yang lalu, Butterfield berkata, “Terlalu banyak korban jiwa, dan harus ada lebih banyak penekanan pada diplomasi dan negosiasi.”

“Kami menyambut negara mana pun yang akan muncul sebagai penengah dan membantu meredakan situasi,” ujar Butterfield. “Kami ingin diplomasi yang serius untuk beralih ke gencatan senjata dan negosiasi. Itu harus dimulai di tingkat politisi, tingkat pemerintahan. Mereka dapat menghentikan bantuan untuk mempersenjatai Ukraina.”

Unjuk rasa serupa digelar di pusat kota Los Angeles pada Sabtu, yang diselenggarakan oleh Code Pink: Women for Peace, sebuah organisasi akar rumput antiperang yang dipimpin kaum perempuan. Para pengunjuk rasa juga menyerukan negosiasi perdamaian di Ukraina dan mendesak pemerintahan Biden agar berinvestasi lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat alih-alih perang.

“Agresi militer AS berhasil menggulingkan Saddam Hussein, tetapi gagal memberlakukan tatanan baru yang stabil, hanya meninggalkan kekacauan, kematian, dan kekerasan. Hal serupa juga terjadi pada intervensi AS di Afghanistan, Libya, dan negara-negara lain,” ujar Medea Benjamin, salah satu pendiri organisasi itu, dalam sebuah artikel. (AT Network)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Amerika SerikatStop Perang
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.