• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Gelombang Panas Bumi di Francis Tewaskan 1.500 Jiwa

by Redaksi Asiatoday
September 11, 2019
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Gelombang Panas Bumi di Francis Tewaskan 1.500 Jiwa

ASIATODAY.ID, FRANCIS – Menteri Kesehatan Francis Agnes Buzyn menyatakan sekitar 1.500 warga meninggal dunia akibat gelombang panas yang melanda negara tersebut sejak Juni lalu.

Dilansir dari Associated Press, Rabu (10/9/2019), Agnes Buzyn menyatakan terdapat lebih dari 1.000 kematian yang melebihi rata-rata pada tahun ini. Sebagian besar kematian terjadi pada warga berusia di atas 75 tahun.

Peningkatan tingkat kematian dari tanggal 24 Juni hingga 7 Juli dan 21 Juli hingga 27 Juli diestimasi sebesar 9,1 persen lebih tinggi dari yang biasanya, berdasarkan laporan CNN pada Senin (9/9).

RelatedPosts

Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet

As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes

UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit

Meskipun tingkat kematian meningkat, tetapi angka kematian ini lebih rendah dibanding kejadian gelombang panas 2003 yang memakan korban hingga 15.000 orang dengan klaim kampanye kesadaran publik telah mengurangi jumlah tersebut.

“Kami telah berhasil. Terima kasih untuk pencegahan dan berbagai pesan yang dapat dilakukan oleh para warga Prancis untuk mengurangi tingkat kematian pada faktor 10,” ujarnya.

Prancis dan banyak negara di Eropa mengalami peningkatan suhu pada musim panas kali ini.

Berdasarkan laporan layanan cuaca nasional Prancis, rekor suhu tertinggi yang terekam mencapai 45,9 derajat celsius pada 28 Juni silam.

Para ahli mengkhawatirkan gelombang panas yang disebabkan karena peningkatan suhu dari emisi gas rumah kaca dapat menjadi hal yang umum terjadi di Eropa.

Sebagian besar wilayah Eropa sendiri tidak dibangun untuk menghadapi panas ekstrem.

Berdasarkan sebuah laporan pada tahun 2017, kurang dari lima persen rumah di wilayah Eropa memiliki pendingin ruangan dan transportasi publik dapat berhenti akibat suhu yang sangat panas.

Prancis telah mengalami gelombang panas yang mematikan sebelumnya. Hal yang mirip pernah terjadi pada musim panas dengan tingkat kematian sebesar 10,1 persen pada tahun 2015 dan 15 persen pada tahun 2018. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Climate ChangeClimate CrisisClimate EmergencyGlobal WarmingIklim GlobalPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.