• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home GREEN ENERGY

Genggam Nikel, Indonesia Jadi Masa Depan Industri Energi Bersih Global

15 September 2021, Indonesia Mulai Ground Breaking Pembangunan Pabrik Baterai pertama di Asia Tenggara

by Redaksi Asiatoday
September 13, 2021
in GREEN ENERGY
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Potensi Capai 1 Miliar Ton, Komisi VII Dorong Perbaikan Tata Kelola Tambang di Sultra

Tambang bijih Nikel PT Antam Pomalaa, di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Perlahan namun pasti, Indonesia mulai menunjukkan eksistensinya sebagai global player.

Salah satunya, Indonesia akan memainkan peran penting sebagai masa depan industri energi bersih dunia.

Menteri Investasi yang juga Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal/BKPM, Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa langkah Indonesia ini didukung dengan kekayaan mineral nikel yang melimpah.

RelatedPosts

Bpfilters Launches Innovative B50 Biodiesel Filter Product

Indonesia Launches Asia’s Largest Cooperative-Based Renewable Energy Initiative

ASEAN Power Grid Gets Real: ADB Unleashes New Fund to Fast-Track Regional Energy Integration

Pasalnya, Indonesia menggenggam 25 persen cadangan nikel dunia dan nikel menjadi bahan baku utama baterai mobil listrik.

Menurut Bahlil, pada 15 September 2021 mendatang, upaya Indonesia untuk wujudkan mimpi sebagai pemain penting energi bersih dunia itu, akan dimulai melalui ground breaking pembangunan pabrik baterai pertama di Indonesia sekaligus pertama di Asia Tenggara.

“Indonesia dikaruniai mineral penting dunia bernama nikel, dimana 25 persen cadangannya berada di Indonesia. Mineral penting ini jadi bahan baku bagi pengembangan mobil listrik dunia, yang ke depan akan menjadi bagian kehidupan moderen manusia,” ujar Bahlil dalam dalam keterangan resmi yang diterima Senin (13/9/2021).

Saat ini, dunia tengah berubah menuju kehidupan lebih sehat dengan mulai meninggalkan bahan bakar fosil. Pengembangan industri mobil ramah lingkungan, khususnya berdaya listrik, tidak bisa lagi dibendung dan akan menggeser keberadaan mobil berbasis BBM.

“Bisa dipastikan pada 2030-an benua Amerika, Eropa, Timur Tengah dan Asia akan menjadi pasar utama mobil listrik dunia dimana era itu ditaksir memiliki porsi 70 persen dari total jumlah kendaraan yang ada. Indonesia pada era itu diprediksi memiliki 6 juta unit mobil listrik. Sekitar 85 persen komponen mobil listrik terlait baterai berbahan baku utama nikel, cobalt dan mangan yang kesemuanya ada di Indonesia,” urainya.

Bahlil menerangkan, Indonesia memiliki aneka kekayaan SDA namun negara belum pernah memanfaatkan secara maksimal menciptakan nilai tambah, sehingga posisinya tidak sebagai pemain utama.

Pada komoditas kayu, potensinya dikuras secara masif tapi Idonesia tidak pernah masuk pada 10 besar negara produsen meubel dunia. Begitu juga emas. Justru Freeport-McMoRan Inc dan Newmont Corporation yang memanfaatkan.

“Indonesia ke depan harus menjadi pemain utama energi baru di dunia. Sekitar 80 persen komponen bahan baku bateri mobil listrik, seperti nikel, kobalt dan mangan, ada di Indonesia. Yang kita tidak punya yakni lithium, dan itu bisa impor dari Australia,” ungkapnya.

Kini pemerintah telah menyetop ekspor nikel, sebab akan dikembangkan nilai tambahnya sebagai bahan baku baterai.

Indonesia dan Korea Selatan sepakat bekerjasama untuk pengembangan potensi mineral ini melalui LG dan BUMN dengan total nilai investasi Rp142 triliun.

“Di tahap awal dimulai dengan pabrik bateri senilai Rp9,8 triliun yang ground-breakingnya akan dilakukan oleh Presiden RI pada 15 September 2021 nanti,” kata Bahlil.

Lalu investasi ke 2 yakni SIAT dengan nilai Rp72 triliun yang kemungkinan besar dikerjasamakan dengan Taiwan atau Eropa.

“Biarkan mereka berkompetisi, agar mereka tahu bahwa Indonesia bukan hanya sekedar potensi wisata seperti Bali, namun juga negara pemasok baterai listrik terbesar dunia,” pungkas Bahlil. (ATN)

Tags: Green EnergyHilirisasi NikelIndustri BateraiIndustri Kendaraan Listrik
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.