ASIATODAY.ID, JAKARTA – Otoritas negara kepulauan Pasifik Vanuatu telah menahan dua kapal penangkap ikan China dan sebuah kapal pesiar Rusia karena diduga beroperasi secara ilegal di perairannya.
Peristiwa ini diyakini merupakan pertama kalinya bagi pihak berwenang di Vanuatu menahan kapal penangkap ikan China.
Kapal China, Dong Gang Xing 13 dan 16, ditangkap oleh kapal patroli polisi pada 19 Januari 2021 di dekat pulau Hiu di perairan utara Vanuatu, menurut polisi.
Kapal-kapal tersebut saat ini ditambatkan di Port Vila, sementara 14 warga negara China menjalani karantina Covid-19 sebelum diinterogasi atas dugaan penangkapan ikan secara ilegal.
“Saat menemani kapal China kembali ke ibu kota, kapal patroli itu juga melihat kapal pesiar Rusia dekat Luganville,” kata polisi.
Tiga warga negara Rusia di dalamnya ditahan dan juga akan menghadapi pertanyaan tentang kehadiran mereka di dekat kota terbesar kedua di Vanuatu.
Kedutaan Besar China di Port Vila belum berkomentar terkait penangkapan ini.
Penangkapan tersebut terjadi saat aktivitas penangkapan ikan China di Pasifik menjadi sorotan setelah Palau menahan kapal lain bulan lalu. Sementara Palau memiliki hubungan yang kurang baik dengan China karena pengakuan diplomatiknya atas Taiwan, Vanuatu adalah sekutu Beijing dan menerima bantuan besar dari negara adidaya Asia tersebut.
Sebuah laporan dari pusat penelitian Overseas Development Institute yang berbasis di London, Ingggris, tahun lalu menemukan bahwa China memiliki armada penangkapan ikan di perairan jauh terbesar di dunia, diperkirakan berjumlah hampir 17.000 kapal. Mereka menyebut China sebagai aktor besar dalam penangkapan ikan ilegal di seluruh dunia, dengan alasan tata kelola armada yang buruk dan kegagalan untuk mengikuti praktik berkelanjutan. Namun Beijing menyangkal tuduhan tersebut.
“Sebagai negara nelayan yang bertanggung jawab, China menganut jalur pembangunan hijau dan berkelanjutan,” kata seorang Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China pada bulan Desember 2020.
Vanuatu menutup perbatasan udara dan maritimnya pada Maret lalu sebagai tanggapan terhadap pandemi Covid-19, di tengah kekhawatiran sistem perawatan kesehatannya yang terbatas tidak akan dapat mengatasi wabah virus.
Sejauh ini negara tersebut telah berhasil menjauhkan virus korona dari masyarakat dengan hanya mencatat satu kasus di karantina pada November. (Aiw/France24)
