• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Ilmuwan Australia Temukan Teknologi Mengubah Air Laut Jadi Air Minum

by Redaksi Asiatoday
August 18, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Darurat Covid-19, Australia Larang Warganya Bepergian ke 177 Negara Termasuk Indonesia

Negara Australia. Ist

ASIATODAY.ID, MELBOURNE – Para ilmuwan dari Australia telah menemukan teknologi yang dapat mengubah air laut atau air payau menjadi air minum yang aman dan bersih.

Para peneliti menggunakan senyawa kerangka logam-organik (atau MOF) dan sinar matahari untuk memurnikan air hanya dalam waktu setengah jam, menggunakan proses yang lebih efisien.

Berdasarkan hasil pengujian awal, dengan satu kilogram bahan MOF bisa memproduksi sekitar 139,5 liter (hampir 37 galon) air bersih yang memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam hitungan waktu empat menit paparan sinar matahari, material mampu melepaskan semua ion garam yang direndam dari air.

RelatedPosts

Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet

As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes

UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit

“Sinar matahari adalah sumber energi paling melimpah dan terbarukan di Bumi. Pengembangan proses desalinasi berbasis adsorben baru melalui penggunaan sinar matahari memberikan solusi yang hemat energi dan ramah lingkungan untuk desalinasi,” kata ahli Kimia dari Monash University Melbourne, Huanting Wang dilansir dari Science Alert, Selasa (18/8/2020).

Para peneliti menciptakan MOF baru yang disebut PSP-MIL-53, sebagian terdiri dari bahan MIL-53, yang sudah dikenal karena bereaksi terhadap air dan karbon dioksida. Meskipun ini bukan penelitian pertama yang menggunakan membran MOF, temuan dan materi PSP-MIL-53 memberikan alternatif baru untuk desalinasi (proses menghilangkan kadar garam dalam air).

Wang menjelaskan, desalinasi telah digunakan untuk mengatasi peningkatan kekurangan air secara global. Karena ketersediaan air payau dan air laut yang melimpah, penggunaan MOF dinilai efektif guna mengatasi kekurangan air bersih.

“Hampir 97 persen di planet Bumi merupakan air garam. Itu adalah sumber daya besar yang belum dimanfaatkan sebagai air minum, solusi seperti PSP-MIL-53 dapat dimanfaatkan untuk mengubahnya menjadi aman dikonsumsi manusia,” kata Wang.

Penelitian yang telah dipublikasikan di Nature Sustainability itu dianggap cukup sederhana, murah dan stabil untuk digunakan.

“MOF yang responsif terhadap sinar matahari ini berpotensi dapat difungsikan lebih lanjut untuk cara yang hemat energi dan ramah lingkungan dalam mengekstraksi mineral untuk penambangan berkelanjutan dan aplikasi terkait lainnya,” tandas Wang. (ATN)

Tags: AustraliaClimate ChangeDesalinasiKrisis Air BersihLautMelbourne
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.