• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home CORPORATION

Imbas Perang Rusia-Ukraina, Chandra Asri Rugi Rp1,7 Triliun pada Kuartal III/2022

by Redaksi Asiatoday
November 1, 2022
in CORPORATION
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Pacu Ekspor, Bank DBS Sokong Chandra Asri Rp840 Miliar

Kawasan industri PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (Chandra Asri). Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Perang Rusia-Ukraina tekah membawa dampak besar terhadap industri di dunia, termasuk di Indonesia, salah satunya PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA).

Pasalnya, emiten ini mencatatkan koreksi pada posisi bottom line hingga kuartal III/2022, terpukul lonjakan harga minyak mentah akibat perang Rusia-Ukraina.

Emiten berkode saham TPIA ini mencatatkan pendapatan bersih sebesar US$1,94 miliar atau setara Rp30,36 triliun (kurs Jisdor Rp15.596 per dolar AS) hingga September 2022. Pendapatan bersih ini naik 3,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$1,88 miliar.

RelatedPosts

DAAZ Company Joins Nickel Downstream Consortium with Antam, Huayou, and EVE

Japan’s Osaka Steel Exits Indonesia, Shuts Down Joint Venture with Krakatau Steel

Arsari Group Accelerates Global Expansion

Beban pokok pendapatan meningkat menjadi US$1,9 miliar dari US$1,57 miliar pada 9 bulan 2021, yang sebagian besar disebabkan oleh harga bahan baku rata-rata yang lebih tinggi dengan rata-rata naphtha pada US$851 per ton pada sembilan bulan 2022, dibandingkan dengan rata-rata US$619 per ton secara tahunan atau year-on-year (yoy).

EBITDA TPIA tercatat turun menjadi sebesar US$11,1 juta hingga kuartal III/2022, dari US$313,7 juta pada periode yang sama tahun lalu. Meski pendapatan naik, TPIA mencatatkan rugi bersih setelah pajak yang mencapai US$111,1 juta atau setara Rp1,73 triliun hingga September 2022, dibandingkan dengan laba bersih setelah pajak sebesar US$166,7 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Menurut Direktur TPIA Suryandi, TPIA menghadapi tantangan eksternal selama 9 bulan tahun 2022 dari harga minyak mentah yang tetap tinggi, dengan harga rata-rata di atas US$100 per barel atau sekitar 51 persen lebih tinggi dari 9 bulan tahun 2021. Hal tersebut sebagai akibat dari ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina yang sedang berlangsung.

“Selain itu, terdapat permintaan yang rendah dari China karena lockdown Covid-19, dan efek musiman lebaran. Sementara itu, spread produk tetap rendah, dan pada akhirnya menghasilkan keuntungan dan margin yang terkompresi,” kata Suryandi dalam keterangan resminya, Senin (31/10/2022).

Dia melanjutkan, dalam masa yang tidak pasti ini, TPIA terus mempertahankan kebijakan keuangan yang hati-hati untuk mengatasi volatilitas, sambil mempertahankan neraca yang kuat.

Menurutnya, TPIA memiliki liquidity pool sebesar US$2.28 miliar, yang terdiri dari US$1.14 miliar kas dan setara kas, US$798,8 juta surat berharga, dan US$342,7 juta fasilitas committed revolving credit yang tersedia.

Dia melanjutkan, selama kuartal III/2022, TPIA telah melunasi seluruh sisa pinjaman JBIC untuk merampingkan komitmen keuangan dan menyelaraskan persyaratan fasilitas pembiayaan yang ada.

TPIA juga terus mendapatkan dukungan kuat dari pasar modal, dengan kelebihan pemesanan (oversubscription) atas penerbitan obligasi senilai Rp2 triliun dan kesuksesan pelaksanaan pemecahan saham dengan rasio 1:4 untuk meningkatkan likuiditas saham TPIA.

“Bank mitra utama kami juga terus menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental bisnis kami, dengan kemitraan fasilitas pinjaman berjangka senilai US$100 juta dari Bank OCBC NISP dan penandatanganan fasilitas pembiayaan Sustainability-Linked Trade pertama UOB di Indonesia,” jelasnya.

Adapun hingga September 2022, TPIA mencatatkan total aset sebesar US$4,8 miliar, turun 3,6 persen dari US$4,99 juta per 31 Desember 2021. TPIA mencatatkan total liabilitas yang lebih rendah sebesar US$1,91 miliar selama sembilan bulan, dari US$2,06 miliar sepanjang 2021. (ATN)

Tags: Industri PetrokimiaPT Chandra Asri
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.