• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

IMF: Hentikan Batu Bara, Dunia Untung USD77,89 Triliun

by Redaksi Asiatoday
June 4, 2022
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 1 min read
A A
0
IMF: Hentikan Batu Bara, Dunia Untung USD77,89 Triliun 1

Emisi karbon dan pencemaran udara yang bersumber dari pembangkit batubara. Dok World Bank

ASIATODAY.ID, JAKARTA – International Monetary Fund (IMF) menegaskan bahwa menghentikan penggunaan batu bara adalah keputusan tepat dan tidak memberi dampak kerugian apapun.

Justru sebaliknya. IMF memperkirakan bahwa penghentian penggunaan batu bara di seluruh dunia dapat memberikan keuntungan hingga USD77,89 triliun secara global.

“Tingginya keuntungan itu, maka penghentian penggunaan batu bara harus segera berjalan,” demikian laporan IMF bertajuk The Great Carbon Arbitrage yang terbit pada Juni 2022, dikutip pada Sabtu (4/6/2022).

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Laporan itu ditulis oleh Ekonom IMF Tobias Adrian, Ekonom Columbia University Patrick Bolton, dan Ekonom Stanford University Alissa M. Kleinnijenhuis. Studi tersebut mengukur keuntungan dari penghentian batu bara serta biaya untuk menggantinya dengan energi baru dan terbarukan (EBT). Selain itu, terdapat kalkulasi atas keuntungan sosial yang diperoleh dari penghentian batu bara tersebut.

Berdasarkan perhitungan IMF, penghentian penggunaan batu bara dapat memberikan keuntungan bruto hingga USD106,9 triliun. Terdapat biaya menghentikan penggunaan batu bara senilai USD29 triliun, sehingga keuntungan secara neto adalah USD77,89 triliun.

“Ini mewakili sekitar 1,2 persen dari PDB dunia saat ini setiap tahunnya hingga tahun 2100,” demikian laporan IMF tersebut.

Studi tersebut menunjukkan bahwa terdapat keuntungan sekitar USD125  dalam penghentian penggunaan setiap satu ton batu bara, lalu adanya keuntungan sekitar USD55 dari hilangnya setiap satu ton emisi karbondioksida.

Menurut IMF, penghentian penggunaan batu bara dapat menghindari munculnya emisi karbon hingga 1.326 gigaton dan akan terdapat sekitar 632 gigaton batu bara yang tidak tergunakan. Namun, tingginya keuntungan dari penghentian batu bara membuat kebijakan itu harus dilakukan secara global.

“Manfaat bersih dari penghentian penggunaan batu bara begitu besar sehingga upaya baru, penetapan harga karbon, dan kebijakan pembiayaan lain yang kita diskusikan, harus diupayakan,” demikian IMF menegaskan. (ATN)

Tags: Batu BaraClimate ActionEmisi KarbonIMF
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.