ASIATODAY.ID, LONDON – Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi Eropa akan kembali ke level sebelum krisis pada tahun 2022. Meski demikian IMF menegaskan proyeksi ini tergantung pada kecepatan vaksinasi Covid-19 di kawasan itu.
Negara-negara di Eropa dipaksa memberlakukan pembatasan baru atau memperkuat langkah-langkah kesehatan masyarakat dalam beberapa pekan terakhir karena infeksi Covid-19 melonjak. Hal ini menyebabkan penurunan 0,2 poin persentase perkiraan pertumbuhan IMF 2021 yang saat ini berada di 4,5 persen.
“Dengan asumsi bahwa vaksin tersedia secara luas pada musim panas 2021 dan sepanjang 2022, pertumbuhan PDB diproyeksikan pada 3,9% pada 2022, membawa PDB Eropa kembali ke tingkat sebelum pandemi,” kata IMF dalam prospek ekonomi regional terbaru.
“Tidak ada yang diketahui tentang seberapa cepat gelombang ketiga dapat dikalahkan, dan itu jelas merupakan risiko penurunan,” kata Direktur Departemen IMF Eropa Alfred Kammer kepada Joumanna Bercetche dari CNBC, Rabu (14/4/2021) mengatakan
“Risiko penurunan juga terjadi jika vaksinasi lebih lambat dari yang diperkirakan saat ini,” katanya.
Dia menambahkan semua orang harus siap bahwa virus akan mengejutkan lagi.
27 anggota Uni Eropa menerima kabar buruk minggu ini, setelah Johnson & Johnson (J&J) menunda peluncuran vaksin di Eropa. Sebelumnya BPOM AS (FDA) menyuarakan kekhawatiran komplikasi pembekuan darah akibat divaksin J&J.
Vaksin J&J satu dari empat yang diandalkan di Uni Eropa untuk mempercepat vaksinasi pada kuartal kedua tahun 2021. Vaksin J&J sangat dicari banyak negara karena hanya membutuhkan satu suntikan.
Ini bukan penundaan pertama distribusi vaksin di Eropa dan UE yang telah menghadapi kritik tajam. Selain masalah dengan vaksin Oxford-AstraZeneca, regulator obat Eropa telah disalahkan karena terlalu lama menyetujui vaksin baru.
Inflasi melonjak
IMF memperkirakan inflasi atau indeks harga konsumen di benua itu akan menguat sepanjang tahun 2021. “Inflasi, saat ini dibatasi oleh kelesuan ekonomi, diproyeksikan naik 1,1 poin persentase menjadi 3,1% pada 2021, sebagian karena harga komoditas yang lebih tinggi,” kata IMF dalam laporannya.
Lonjakan inflasi dapat memaksa ECB untuk menyesuaikan sikap moneternya yang sangat longgar. Bank Sentral Eropa mengatakan inflasi di kuartal terakhir tahun ini diprediksi sebesar 2 persen. (ATN)
