• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Indeks Inklusi Fintech Indonesia Terendah di ASEAN

by Redaksi Asiatoday
July 1, 2021
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Fintech Kian Agresif, Industri Perbankan Bisa Digilas

Fintech (Finansial Technology) di Indonesia. ist

ASIATODAY.ID, SINGAPURA – Indeks Inklusi Keuangan Indonesia termasuk yang terendah di antara negara ASEAN. Pada 2019, Indeks Inklusi Keuangan Indonesia tercatat sebesar 76 persen. Sementara negara ASEAN seperti Singapura sudah mencapai 98 persen, Malaysia 85 persen, dan Thailand 82 persen. Indonesia harus mengejar ketertinggalan ini.

Duta Besar RI untuk Singapura, Suryo Pratamo mengungkapkan hal itu saat berbicara dalam forum webinar Digital and Fintech Opportunities for Indonesia and Singapore Rabu (30/6/2021), yang diselenggarakan oleh Singapore Business Federation (SBF).

“Sekitar 80 persen industri digital Indonesia termasuk di sektor fintech lebih banyak berkembang di Jawa dan Sumatera. Padahal potensi ekonomi digital termasuk industri fintech di Indonesia masih sangat besar, termasuk di wilayah timur Indonesia,” tegas Dubes Tommy, dikutip siaran pers Kemlu, Kamis (01/07/2021).

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

Menurut Dubes Tommy, pembangunan infrastruktur untuk menunjang industri fintech di Indonesia tidaklah mudah. Sebagai sebuah negara kepulauan yang luas, dibutuhkan investasi yang besar untuk membangun infrastruktur tersebut. Tantangan yang lain, tingkat literasi keuangan digital Indonesia juga masih rendah, hanya 35,5 persen. Padahal Indonesia memiliki jumlah pengguna ponsel terbesar kedua dunia, tetapi hanya sedikit yang menggunakan ponselnya untuk tujuan produktif. Bahkan hanya 31,26 persen orang yang telah menggunakan layanan digital, 8 persen akrab dengan e-money (uang elektronik).

Sepanjang 2020 transaksi yang dilakukan secara online diperkirakan mencapai Rp 201 triliun. Penyaluran pendanaan melalui perusahaan fintech menyentuh Rp 155,9 triliun, naik hingga lebih dari 90 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Webinar ini diikuti lebih dari 140 peserta dari kalangan industri fintech Singapura dan Indonesia. Dubes RI Singapura juga berharap perusahaan-perusahaan fintech dapat ikut mendorong literasi fintech masyarakat Indonesia dan membantu integrasi para pelaku bisnis terutama dari UMKM ke jaringan ekonomi digital.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Group Inovasi Keuangan Digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Triyono Gani memaparkan lanskap perkembangan fintech di Indonesia dan kerangka peraturan atau perijinan bagi perusahaan fintech di Indonesia.

Pembicara lain yang berpartisipasi dalam webinar ini adalah Yong Sheng Le dari Monetary Authority of Singapore, yang memaparkan ekosistem pengembangan industri fintech di Singapura dan sejumlah dukungan teknis, serta pendanaan dari pemerintah Singapura untuk pengembangan startup di sektor fintech Singapura.

Ada juga pembicara lainnya, yaitu Terrece Oh dari Western Union, Edwin Kusuma dari Finantier Technology Indonesia, Kelvin Teo dari Modalku, dan Rolly Lahagu dari Standard Chartered Bank yang menyampaikan pandangan mengenai pengalaman mereka dalam mengembangkan perusahaan, dan upaya mereka memfasilitasi inklusi para pelaku bisnis ke dalam platform mereka.

Business Times Singapura mencatat, sepanjang 2020 sedikitnya ada 173 persetujuan investasi dengan nilai total sekitar USD4,4 miliar atau sekitar Rp64 triliun yang banyak menggunakan Singapura sebagai pintu masuk investasi-investasi tersebut.

Perusahaan modal ventura global seperti Kearney dan Alpha JWC juga menyebutkan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia akan terus menguat hingga sedikitnya ke tingkat 50 persen dalam waktu 5 tahun ke depan. Selain dari sisi investasi, menguatnya industri digital Indonesia tersebut juga didukung oleh semakin tumbuhnya kelas menengah di Indonesia. (ATN)

Tags: Asia DigitalAsia FintechEkonomi DigitalFintech Indonesia
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.