ASIATODAY.ID, JAKARTA – Umat Islam di Indonesia mengapresiasi dan sangat menghormati pemikiran ulama besar Tunisia dan dunia, Allamah Muhammad Thahir bin ‘Asyur.
Ulama ini dikenal sebagai Pelopor Reformasi dan Pembaruan di Dunia Islam.
Untuk mengenang pemikiran sang ulama, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tunis menggelar haul wafatnya Thahir bin ‘Asyur, di Wisma Kedutaan Besar RI, (3/8/2022).
Kegiatan ini dihadiri keluarga besar Ibnu ‘Asyur Rafa’ bin Asyur, mantan Duta Besar Tunisia untuk Maroko Muhammad ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Asyur, mantan Menteri Kebudayaan Tunisia ‘Iyyad bin ‘Asyur, peneliti Baitul Hikmah, dan Rabia bin ‘Asyur, profesor di Universitas Carthage.
Selain itu, hadir juga al-Arusi al-Mizuri dan Ahmad ‘Adhum, keduanya mantan Menteri Agama Tunisia, ulama Universitas Zaitunah dan WNI yang sedang kuliah di Universitas Zaitunah.
Dua ulama Tunisia menyampaikan presentasi sebagai narasumber, yaitu Syekh Hisyam bin Mahmud, Imam Besar Masjid Zaitunah dan Syekh ‘Afif Shababati, Imam Besar Masjid Anas bin Malik.
Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi menyampaikan, bahwa kegiatan memperingati hari wafatnya ‘Allamah Muhammad Thahir bin ‘Asyur sebagai doa dan apresiasi atas karya-karyanya yang telah menginspirasi moderasi Islam Indonesia.
Zuhairi menjelaskan Allamah Muhammad Thahir bin Asyur dikenal luas di Indonesia melalui karya-karyanya yang sangat brilian, khususnya Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, Maqashid al-Syari’ah al-Islamiyyah, dan Ushul al-Nidham al-Ijtima’i fi al-Islam. Dia merupakan salah satu peletak fondasi moderasi Islam.
“Pemikirannya terus dikaji dan disebarluaskan, sehingga mempunyai pengaruh luas di dunia Islam, khususnya Indonesia”, ujar Dubes RI yang juga sebagai Katua Bidang Hubungan Antar Agama, Baitul Muslimin Indonesia.
Dubes Zuhairi juga menyampaikan, bahwa ‘Allamah Muhammad Thahir bin Asyur dapat menjadi jembatan persahabatan Indonesia-Tunisia, khususnya dalam memperluas horison moderasi beragama.
“Melalui pemikiran ‘Allamah Muhammad Thahir bin Asyur, kita dapat memperkokoh hubungan Indonesia-Tunisia, khususnya dalam menyebarluaskan moderasi beragama sebab itu pula, para mahasiswa Indonesia di Universitas Zaitunah sudah membentuk forum kajian “Asyurian” dan setiap hari membaca kitab tafsir al-Tahrir nwir wa al-Tanwir, karya ‘ Allamah Muhammad Thahir bin ‘Asyur,” imbuhnya.
Sementara itu, Rafa’ bin Asyur atas nama keluarga dan cucu ‘Allamah Muhammad Thahir bin Asyur menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Dubes RI untuk Tunisia yang telah memberikan penghormatan kepada ulama besar Tunisia ini.
“Kami atas nama keluarga, murid, dan warga Tunisia mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas penghormatan kepada kakek dan ulama besar Tunisia. ‘Allamah Muhammad Thahir bin ‘Asyur adalah pencinta ilmu, kemanusiaan, dan rendah hati. Ajaran cinta itulah, membuatnya dicintai warga Tunisia dan dunia, khususnya warga Indonesia,” imbuhnya.
Diplomasi Puisi
Pada momentum ini, KBRI Tunis juga menggelar kegiatan Diplomasi Puisi Indonesia-Tunisia. Kegiatan itu untuk memperkokoh persahabatan kedua negara.
“KBRI Tunis mempunyai slogan Indonesia-Tunis sahabat dan saudara. Persahabatan ini harus diterjemahkan dalam berbagai bidang, khususnya kebudayaan. Kami senang sekali para penyair Tunisia menyambut baik inisiatif ‘Diplomasi Puisi Indonesia-Tunisia’ ini. Ini artinya hubungan bilateral di antara kedua negara sangat baik dan dekat,” ujar Dubes Zuhairi.
Penyair nasional yang tampil yakni Jamal D. Rahman. Lalu penyair asal Tunisia juga hadir di antaranya Anis Syusyan, Muhammad Ghazi, Izzuddin Syabi, Hindun Trabelsi, Rasyid Arfawi, dan Mukhtar Amrawi.
Dubes Zuhairi mengatakan puisi merupakan bagian penting dalam membangun cinta Tanah Air.
“Puisi adalah infrastruktur kebangsaan. Dan pada malam Diplomasi Puisi, saya pun membacakan puisi ‘Aku Memanggilmu Tunis’ karya Jamal D. Rahman yang di dalamnya mengisahkan persahabatan Sukarno dan Habib Bourgaiba sebagai basis hubungan bilateral Indonesia-Tunisia,” ujar Dubes Zuhairi.
Sementara itu, Jamal D. Rahman membacakan puisi tentang Abul Hasal al-Syadzili, puisi dalam buku al-Muqaddimah Ibnu Khaldun, Palestina, dan beberapa puisi karyanya.
“Saya senang bisa berjumpa para penyair asal Tunisia. Puisi dapat mendekatkan Indonesia-Tunisia. Sebab itu, saya mendukung penuh diplomasi puisi sebagai jalan memperkokoh persahabatan di antara kedua negara,” pungkasnya. (ATN)
