ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia memperkuat kerja sama dengan Arab Saudi dalam pengawasan obat dan makanan. Sinergi itu dijalin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan Saudi Food and Drug Administration (SFDA) untuk supervisi produk yang sehat dikonsumsi masyarakat.
CEO of SFDA Hisham bin Saad Al Jadhey saat bertemu dengan Kepala BPOM Penny K Lukito di Riyadh, Arab Saudi mengatakan, ada sejumlah alasan kuat yang melatari kerja sama strategis antara Arab Saudi dan Indonesia dibidang pengawasan obat dan makanan.
Menurut Hisham, alasan kuat itu karena Arab Saudi dan Indonesia adalah negara Muslim.
“Dua negara mempunyai hubungan erat yang secara bersama tergabung dalam anggota G-20,” ujarnya dikutip dalam siaran pers yang diterima asiatoday.id, di Jakarta, Sabtu (5/10/2019).
Selain itu, pengawasan obat dan makanan di Arab Saudi dan Indonesia dilaksanakan oleh satu lembaga independen yang mempunyai kekuatan spesifik di bidangnya dan unggul di regional masing-masing. Kedua pihak dinilai Hisham dapat saling mengisi dan memberi dalam kepentingan yang saling menguntungkan.
Pertemuan bilateral kedua lembaga pengawas obat dan makanan tersebut dilakukan usai acara pembukaan SFDA Annual Conference and Exhibition 2019 di Riyadh International Convention and Exhibition Center. Kepala BPOM hadir sebagai tamu kehormatan.
Penny Lukito mengemukakan, kemitraan dengan Saudi itu sebagai lanjutan dari pertemuan Kepala Badan Pengawas Obat Negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang diadakan di Jakarta tahun lalu.
BPOM kemudian melakukan langkah-langkah konkret terkait implementasi Deklarasi Jakarta dan Rencana Aksi hasil pertemuan tersebut.
“BPOM dan SFDA sepakat mendukung kesinambungan forum penting yang mewujudkan tujuan kemandirian suplai obat dan vaksin serta peningkatan akses dan ketersediaan obat dan vaksin negara anggota OKI,” jelasnya.
Penny menambahkan, saat ini BPOM, SFDA, dan OKI juga bertukar informasi mengenai sistem pengawasan obat dan makanan di Arab Saudi dan Indonesia.
Di bidang pangan, setidaknya ada empat isu strategis yang menjadi bahan diskusi, antara lain Sertifikasi Halal produk pangan, kolaborasi dan kerja sama Risk Assessment in Food, Kebijakan Sistem Pengawasan Keamanan Pangan dan Program Healthy Food.
“BPOM juga mengajak SFDA untuk menguatkan komitmen kerja sama yang sudah berjalan, termasuk untuk mendorong perdagangan kedua negara,” jelas Penny.
Penny berharap kerja sama SFDA dan BPOM dapat berkontribusi dalam upaya kemandirian dan akses obat dan vaksin di negara anggota OKI.
Hisham memberi apresiasi kinerja BPOM yang dapat memberi contoh sebagai lembaga regulator yang baik.
“Pandangan kami tentang Indonesia dan BPOM kini berubah. Begitu banyak pencapaian yang telah diraih BPOM sehingga kami perlu banyak belajar, baik secara substansi teknis maupun pengembangan organisasi yang berkualitas dan mandiri,” tandas Hisham. (AT Network)
,’;\;\’\’
