• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Indonesia Batal Beli Sukhoi Rusia Akibat Potensi Sanksi AS

by Redaksi Asiatoday
December 6, 2021
in Business
Reading Time: 1 min read
A A
0
Indonesia Tetap Beli 11 Jet Tempur Sukhoi Su-35 Buatan Rusia

Jet Sukhoi Su-35 Buatan Rusia. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia dilaporkan telah membatalkan pembelian jet tempur Rusia Sukhoi Su-35, karena kendala potensi sanksi dari Amerika Serikat (AS) yang melarang transaksi alutsista dengan negara Eropa timur tersebut.

Sebagaimana dilaporkan Bulgarian Military, mengutip sumber laporan Kongres AS (parlemen Amerika) yang “mengumumkan dalam laporan baru-baru ini (mengenai) penghentian akhir kontrak Indonesia untuk pasukan 11 pesawat tempur Sukhoi Su-35,” tulis media yang berbasis di Bulgaria itu pada Minggu (5/12/2021).

“Dengan batalnya Indonesia, China saat ini tetap menjadi satu-satunya pelanggan asing yang memiliki Su-35, meskipun salinan pertama mungkin telah dikirim ke Mesir,” lanjut Bulgarian Military.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

Seperti yang dirinci dalam Defense Analysis, kontrak pengadaan itu, yang awalnya dievaluasi pada tahun 2012, kemudian diperpanjang tiga tahun kemudian, pada Maret 2015, ketika para pemimpin Angkatan Udara Indonesia (TNI-AU) memutuskan untuk menggantikan pesawat tempur AS yang sudah usang. F-5 Tiger, yang telah aktif selama lebih dari 40 tahun.

Negosiasi yang berlarut-larut oleh antara Jakarta dan Moskow, yang berlangsung pada tahun-tahun berikutnya hingga penandatanganan kontrak senilai USD1,14 miliar, ditandatangani pada Februari 2018.

Moskow dan Jakarta juga menyetujui metode pembayaran untuk 11 Su-35: 50% dari jumlah tersebut akan diimbangi oleh pasokan ke Rusia dari produk lokal, terutama barang-barang pertanian, termasuk minyak sawit, tetapi juga turunan karet, alas kaki, kertas, resin, plastik dan produk untuk industri pertahanan.

Awal tahun 2020, kantor berita Rusia TASS melaporkan bahwa pihak berwenang Indonesia telah meninggalkan semua rencana untuk memperoleh Su-35 karena tekanan AS, mengancam akan memberi sanksi kepada Jakarta dengan kebijakan Melawan Musuh Amerika Melalui Undang-Undang Sanksi (CAATSA), sebuah ketentuan yang memberi sanksi kepada negara-negara yang membeli peralatan dari industri pertahanan Rusia.

Indonesia juga diketahui tengah menego beberapa jet tempur dari negara lain, seperti Dassault Rafale Prancis, Eurofighter Typhoon Uni Eropa, dan F-15 AS. (ATN)

Tags: Kerjasama Indonesia-RusiaSukhoi Su-35
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.