• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Indonesia Bukan Target Donald Trump

by Redaksi Asiatoday
February 24, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Indonesia Bukan Target Donald Trump

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Kebijakan Presiden Amerika Serikat mencoret sejumlah negara termasuk Indonesia dari daftar negara berkembang yang menerima special differential treatment (SDT), dinilai tidak akan berdampak terhadap hubungan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Kepala Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro memandang, kebijakan Trump itu tidak secara langsung menempatkan Indonesia dalam target sasaran.

“Ini bukan tentang Indonesia. Langkah ini justru akan mempermudah AS untuk mengaplikasikan bea antidumping atau countervailing duties (CVD), sehingga Trump dapat mengenakan tarif kepada lebih banyak barang China,” terang Satria, dalam keterangannya, Senin (24/2/2020).

RelatedPosts

New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System

Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals

Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen

Satria menjelaskan, CVD berbeda dengan Generalized System of Preferences (GSP). CVD adalah bea yang dibebankan pemerintah atau negara pengimpor guna menyeimbangkan harga produk yang sama dari produsen dalam negeri dan harga produk asing berdasarkan subsidi ekspor yang mereka peroleh dari negara asal.

“Dengan fasilitas GSP yang diberikan secara sepihak oleh AS, hal itu justru bertujuan mempromosikan pertumbuhan di negara berkembang,” jelasnya.

Sejauh ini, ada sekitar sebelas komoditas Indonesia yang sudah terkena CVD a.l. biodiesel, karbon, batang baja, udang beku, Monosodium Glutamate (MSG), serta berbagai jenis polyethlene plastic. Salah satu, komoditas yang baru dikenakan CVD pada tahun lalu adalah menara angin (wind towers). Sementara itu, terdapat 3.544 produk ekspor Indonesia yang masih menikmati GSP hingga hari ini.

Menurut Satria, pasar AS masih sangat penting bagi performa neraca dagang Indonesia. Sepanjang 2019, Indonesia menikmati surplus perdagangan sebesar USD8,6 miliar atas AS.

“Surplus ini terbesar jika dibandingkan dengan India dan Uni Eropa,” urainya.

Sebelumnya, pada 10 Februari 2020, AS resmi mencoret Indonesia dan sejumlah negara lainnya – termasuk Korea Selatan, Thailand, Singapura dan Vietnam, dari daftar developing and least-developed countries. Dengan kebijakan ini, Indonesia tidak akan lagi berada dalam daftar penerima special differential treatment (SDT) yang tersedia dalam WTO Agreement on Subsidies and Countervailing Measures. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: Development CountryDonald TrumpKerjasama Indonesia Amerika
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.