• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Indonesia Dorong Konservasi Mangorove Masuk Agenda KTT Aksi Iklim PBB

by Redaksi Asiatoday
August 8, 2019
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Indonesia Dorong Konservasi Mangorove Masuk Agenda KTT Aksi Iklim PBB

ASIATODAY.ID, BATAM – Kegiatan Konservasi Mangorove di Indonesia sebagai upaya mengatasi pemanasan global siap diajukan ke KTT Aksi Iklim PBB di New York, September 2019 mendatang. Inisiatif itu datang dati Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya.

“Saya akan lapor ke Presiden, bentuknya konsultasi karena ini strategis sebenarnya. Ibu Negara juga sudah menyampaikan soal pentingnya mangrove ini di pertemuan Ibu Negara G20. Menurut saya ini bagus buat Indonesia sebagai penanda kita peduli dengan mangrove,” ujar Siti pada perayaan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2019 di Taman Wisata Alam, Muka Kuning, Batam, Rabu (7/8/2019).

Pada 23 September 2019 mendatang, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres akan menjadi tuan rumah KTT Aksi Iklim PBB, menyerukan para Kepala Negara dan para pemimpin lainnya, termasuk dari sektor swasta, untuk datang ke New York dengan rencana konkrit, dengan skala terukur menuju transformasi penuh untuk mencapai ekonomi riil net-zero emisi global pada 2050.

RelatedPosts

Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet

As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes

UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit

“Karena itu saya ingin masukkan ini ke agenda Climate Action Summit, boleh dibilang saya akan usulkan ke Presiden, agar Beliau menyebutkan aksi penanaman mangrove ini sebagai bagian penting dalam upaya mengendalikan perubahan ikilm. Bahannya sedang kita siapkan,” lanjut Siti.

Sebetulnya kata dia, mangrove merupakan “preparate” terbaik dalam menyimpan karbon setelah lahan gambut. Penelitian Balai Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI KLHK) menyebutkan mangrove menjadi terbaik kedua sebagai carbon sink setelah gambut, atau lima kali setara hutan biasa.

Oleh karena itu, Siti mengatakan setelah kurang lebih sudah melihat hasil tata kelola gambut maka pemerintah juga ingin melihat dan menghadapi secara nyata masalah-masalah pengelolaan mangrove.

“Kita bersyukur bahwa Ibu Negara mengambil kepedulian terhadap mangrove dan itu dilakukan bersama OASE-KK. Kepada saya, sebenarnya Ibu Negara menyampaikan informasi tentang aksi penanaman mangrove. Tapi karena aksi ini memang mendukung langkah subyek Kementerian, jadi saya tentu dukung dan harus terdepan juga,” ujar dia.

Lebih lanjut, Siti mengatakan bahwa Ibu Negara telah menyampaikan pada dirinya bahwa aksi penanaman mangrove sudah lengkap dilakukan di 34 provinsi. Sebanyak 137.000 bibit pohon mangrove ditanam bersama seluruh jajaran pemerintahan dan masyarakat termasuk juga TNI/Polri, maka setelah itu tentu harus ada tindak lanjutnya.

Indonesia memiliki tiga juta hektare lebih hutan mangrove, di mana 54 persen ada di kawasan hutan sedangkan 46 persen berada di luar kawasan hutan.

Sejumlah masalah terjadi di beberapa tempat, seperti diolah oleh industri menjadi arang. “Berarti harus ada regulasi tentang ini, itu sedang diberesi, jangan lama-lama juga,” ujarnya.

Sebelumnya, Ibu Negara Iriana Joko Widodo bersama istri menteri Kabinet Kerja yang tergabung dalam Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE-KK) melakukan penanaman mangrove di lokasi penanaman mangrove di Pancur Pelabuhan, Kelurahan Tanjung Piayu, Kecamatan Sei Beduk, Batam.

Ibu Negara bersama Ibu Mufidah Jusuf Kalla juga melakukan pelepasliaran dua pasang elang bondol yang memiliki nama ilmiah Haliastur indus di TWA Muka Kuning bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan istri menteri Kabinet Kerja yang tergabung dalam OASE-KK. (Lis)

,’;\;\’\’
Tags: Climate Action SummitClimate ChangeClimate EmergencyGlobal WarmingMangorove
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.