ASIATODAY.ID, BOGOR – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk melakukan riset program pemberdayaan praktek peningkatan perekonomian desa.
Program tersebut bertajuk One Village One CEO yang akan menggeser pola pembinaan menjadi pendampingan langsung oleh CEO Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).
“Program ini basisnya pengentasan kemiskinan di pedesaan yang saat ini angkanya masih sekitar 10,3 persen. Program kami ini akan menjadi solusi dari masalah kemiskinan, dengan menggeser pola pembinaan menjadi pendampingan yang langsung dilakukan oleh CEO Bumdes,” terang Wakil Menteri PDTT, Budi Arie Setiadi, dalam keterangan tertulis Sabtu (15/2/2020).
Menurut Budi, program tersebut akan menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang inovatif dan kreatif dalam membangun desa.
“Kunci dari kemajuan desa adalah SDM yang inovatif dan kreatif,” ujarnya.
Budi mengungkapkan, untuk mengeksekusi program ini, berbagai pihak dilibatkan mulai dari akademisi dalam hal ini IPB sebagai lembaga yang melakukan riset dan pemberdayaan praktek peningkatan perekonomian desa. IPB siap mendukung penuh demi terwujudnya Program One Village One CEO.
“Selama ada kreatifitas, apapun tantangan maupun hambatan pasti bisa di hadapi,” terang Budi.
Budi menegaskan kolaborasi dengan kampus IPB sangat dibutuhkan, apalagi kapasitas IPB yang memiliki SDM melimpah tentunya sudah sangat siap.
“Hal utama dari program tersebut adalah pembentukan BUMDes yang idealnya menjadi pusat perdagangan dan distribusi desa,” imbuhnya.
Sementara itu Rektor IPB, Arif Satria, mengatakan, pihaknya siap berkolaborasi dengan pihak swasta guna melahirkan Sosiopreneur yang akan meningkatkan taraf perekonomian pedesaan.
“Mereka nantinya diharapkan mampu menularkan ilmunya kepada masyarakat di pedesaan,” jelas Arif.
Arief memaparkan sinergi dan kolaborasi perlu dilakukan untuk mewujudkan pertanian yang maju dan sejahtera. Jika dibiarkan begitu saja, pertanian akan menjadi sebuah beban. Namun apabila diberdayakan dengan percepatan dan teknologi yang canggih maka akan menjadi kekuatan.
“Bahkan peningkatan kemajuan teknologi di bidang pertanian maupun peternakan ini bisa menjadi kekuatan kita, dalam menopang tekhnologi nasional,” tandas Arif. (AT Network)
,’;\;\’\’
