• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Tuesday, July 14, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Indonesia Genggam 50 Persen Pasokan Nikel Global pada 2025

by Redaksi Asiatoday
June 18, 2021
in Business
Reading Time: 1 min read
A A
0
HRUM Kembali Kucurkan AUD5,279 Juta Beli 10,5 Juta Lembar Saham Nickel Mines

Kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan bahwa Indonesia diproyeksikan akan memasok 50 persen nikel global pada 2025. Angka ini meningkat dibandingkan 2020 dengan posisi 28 persen.

Menurut Luhut, dengan jumlah produksi sebanyak 21 juta ton per tahun, maka Indonesia telah menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia dalam bentuk Nickel Pig Iron (NPI).

“Produksi nikel Indonesia akan meningkat dengan adanya smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang akan mulai beroperasi pada 2021 yang akan menghasilkan Mix Hydroxide Precipitate (MHP),” kata Luhut dalam keterangan resmi, Jumat (18/6/2021).

RelatedPosts

Freeport’s Grasberg Recovery: 21 Tonnes of Gold Target in 2026

Japan’s Takeda Places US$30 Million Bet on Indonesia’s Biopharma Ambition

ASEAN’s Chip Race: Indonesia and Malaysia Forge New Semiconductor Alliance

Luhut menerangkan,  Indonesia memiliki potensi tawar (bargaining position) yang kuat di mata dunia sehingga bisa berkembang dan bekerja sama yang saling menguntungkan. Pemerintah pun telah mendorong investasi pada hilirisasi produk turunan nikel untuk memproduksi baterai listrik.

“Ini sudah saatnya Indonesia memainkan peran di tingkat global,” imbuhnya.

Saat ini, sejumlah kawasan industri mulai mengembangkan produk turunan nikel dan bauksit, di antaranya kawasan Galang Batang dengan nilai total investasi sebesar USD2,5 miliar yang ditargetkan beroperasi 2021.

Kemudian kawasan Industri Morowali Utara dengan nilai total investasi sebesar USD4,19 miliar dengan target operasi pada kuartal keempat 2021, dan kawasan industri Tanah Kuning dengan nilai total investasi yang akan dikucurkan secara bertahap sebesar USD60 miliar dengan target operasi 2022.

Selain kawasan-kawasan itu, nilai investasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Indonesia Weda Bay Industrial Park yang masing-masing sebesar USD10 miliar. Dengan membangun kawasan industri yang terintegrasi, menurutnya ongkos produksi menjadi semakin murah.

“In the end, cost kita jadi sangat murah, otomatis harga jual nikel olahan kita jadi bersaing sehingga China menerapkan kebijakan dumping ke Indonesia,” tandas Luhut. (ATN)

Tags: Hilirisasi NikelIndonesia Morowali Industrial ParkIndonesia Weda Bay Industrial ParkNikel
No Result
View All Result

Terbaru

  • California Seeks Strategic Partnership with Indonesia
  • Indonesia’s Geothermal Future Put to the Test in NTT
  • FBI Joins Indonesia Corruption Probe as Gold and Millions in Cash Raise Global Scrutiny
  • Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert
  • Global Waste-to-Energy Giants Enter Indonesia’s Green Infrastructure Race
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.