• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Tuesday, July 14, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Indonesia harus Belajar dari Konflik di Beberapa Negara Asia Tenggara

by Redaksi Asiatoday
October 2, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Indonesia harus Belajar dari Konflik di Beberapa Negara Asia Tenggara

Konflik sosial. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Konflik separatisme, kekerasan komunal, maupun konflik laten merupakan fenomena yang dialami oleh negara-negara di Asia Tenggara.

Separatisme di kawasan ini merupakan bagian dari sejarah integrasi nasional di Indonesia, Philipina, dan Thailand yang telah berakhir dengan perjanjian damai.

“Namun, konflik separatisme bersenjata masih berlanjut di Papua, Indonesia  dan Pattani, Thailand yang berhimpitan dengan pembelahan identitas kultural,” ungkap Cahyo Pamungkas dari Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI dikutip dari laman LIPI, Jumat (2/10/2020).

RelatedPosts

California Seeks Strategic Partnership with Indonesia

FBI Joins Indonesia Corruption Probe as Gold and Millions in Cash Raise Global Scrutiny

Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert

Cahyo menjelaskan, setelah tahun 2006 konflik komunal di Indonesia bergeser menjadi persekusi terhadap kelompok minoritas keagamaan.

“Sifat dasar konflik juga berubah dari kekerasan menjadi konflik laten ditandai dengan intoleransi dan radikalisme,” jelas Cahyo.

Dirinya mencontohkan, intoleransi juga merambah ke media sosial melalui ujaran kebencian dan berita bohong.
 
Cahyo menekankan dalam satu dekade ke depan Indonesia akan menghadapi dua persoalan terbesar, yakni intoleransi keagamaan dan konflik separatisme Papua.

“Oleh karena itu, kita dapat belajar dari dinamika konflik pada masa lalu ataupun strategi penyelesaian konflik di negara lain,” jelasnya.
 
Dirinya menerangkan, dari hasil refleksi pengalamannya selama 16 tahun terakhir melakukan kajian konflik vertikal dan horizontal di Asia Tenggara. konflik komunal, laten, dan separatisme masih kerap muncul di kawasan Asia Tenggara meskipun berbagai kajian konflik dan perdamaian telah dilakukan.
 
Cahyo menguraikan dinamika konflik horisontal memberikan pelajaran bahwa perasaan terancam dan religiosentrisme merupakan temuan penting.

“Keduanya merupakan bagian dari ekosistem yang menggerakkan identitas agama atau etnis untuk berperan dalam sikap intoleran, diskriminatif, dan tindak kekerasan terhadap kelompok lain,” kata Cahyo.   
 
Oleh karena itu, strategi transformasi konflik dapat dilakukan dengan mengatasi deprivasi dan memperluas batas-batas sosial bersama yang memungkinkan terjadinya dialog dan rekonsiliasi.

“Pendekatan yang memandang bahwa identitas etnis dan agama merupakan sumber utama dari intoleransi, radikalisme dan konflik sosial perlu direkonstruksi kembali,” tutup Cahyo. (ATN)

Tags: Asia TenggaraKonflik SosialLIPI
No Result
View All Result

Terbaru

  • California Seeks Strategic Partnership with Indonesia
  • Indonesia’s Geothermal Future Put to the Test in NTT
  • FBI Joins Indonesia Corruption Probe as Gold and Millions in Cash Raise Global Scrutiny
  • Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert
  • Global Waste-to-Energy Giants Enter Indonesia’s Green Infrastructure Race
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.