• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Indonesia harus Belajar Mitigasi Bencana dari Peristiwa Banjir Jabodetabek

by Redaksi Asiatoday
January 9, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Indonesia harus Belajar Mitigasi Bencana dari Peristiwa Banjir Jabodetabek

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Banjir yang melanda wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) di awal tahun ini memberikan pelajaran berharga bagi semua pihak. Penanganan banjir memerlukan pendekatan multi dimensi mencakup aspek hidrologi air dan ekologi manusia.

“Kemungkinan dan potensi-potensi bencana harus kita mitigasi. Musim hujan masih masih panjang. Kajian-kajian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dapat digunakan untuk upaya mitigasi, sehingga kerugian dan korban yang ditimbulkan dapat diminalisir,” terang Agus Haryono, Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), saat Media Briefing “Banjir Ibu Kota: Potret Aspek Hidrologi dan Ekologi Manusia” di Jakarta pada Selasa, sebagaimana dituangkan dalam keterangan tertulis yang diterima Kamis (09/01/2020).

Peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI, M. Fakhrudin menyebutkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi banjir. Yaitu curah hujan, tutupan lahan, dan sistem drainase.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

“Sebanyak 30 sampai 40 persen wilayah di Jakarta berada di bawah permukaan air laut, dan persentasenya terus bertambah,” jelasnya.

Menurut Fakhrudin, sistem drainase di Jakarta masih mengandalkan pompa.

“Hal ini menyebabkan proporsi jumlah air hujan yang dikonversi langsung menjadi aliran permukaan atau direct run-off akan cenderung terus meningkat,” ujarnya.

Terkait penyebab banjir awal tahun 2020 ini, Fakhrudin menjelaskan hujan memang menjadi faktor utama banjir di hilir. Sementara aliran sungai di hulu meningkatkan besaran dan lamanya banjir.

“Hujan ekstrem di hilir merupakan faktor utama terjadinya banjir di Jakarta kali ini, jadi bukan lagi salah kiriman air dari Bogor,” jelas Fakhrudin.

Merujuk data BMKG, pada 31 Desember 2019 hingga 1 Januari 2020, wilayah Jabodetabek mengalami hujan sedang hingga ekstrem.

“Curah hujan harian tertinggi tercatat di daerah Halim Perdanakusuma dengan jumlah 377 mm/hari, disusul dengan daerah Depok yang mencapai 92 mm/hari,” jelasnya.

Fakhrudin memaparkan bahwa kecenderungan hujan deras meningkat di Jabodetabek setiap tahunnya akibat dari krisis iklim.

“Hujan ekstrem ini seharusnya menjadi acuan dalam membangun drainase air hujan,” jelasnya.

Perubahan Tata Ruang

Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Iptek dan Inovasi LIPI, Galuh Syahbana Indrapahasta, mengungkapkan banjir di Jabodetabek adalah akibat tidak terkelolanya aspek teknis, ekologi, dan sosial.

Galuh memandang, pembangunan ide Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal Barat sudah direncanakan sejak zaman kolonial.

“Ini menunjukkan bahwa masalah banjir sudah menjari kekhawatiran sejak lama. Secara subsistem teknis, perlu adanya perbaikan sistem drainase dan pompa,” terangnya.

Ia juga menyoroti perilaku tidak ramah lingkungan yang dilakukan masyarakat menyumbang risiko banjir.

“Sungai dilihat sebagai halaman belakang, tempat sampah komunal,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan, produksi sampah Jakarta hanya 0,5 sampai 0,8 kilogram per hari dibandingkan Singapura yang mencapai satu kilogram per hari.

“Namun di sana jarang terjadi bencana banjir. Ini berarti bukan soal sampahnya, tapi perilaku membuang sampahnya,” tambah Galuh.

Adaptasi Transformatif

Gusti Ayu Surtiari, peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, menjelaskan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk menghadapi banjir yang terjadi.

“Jabodetabek beresiko banjir karena topologi dan ekologinya, ditambah lagi curah hujan meningkat. Lalu jika banjir sudah datang, kita mau apa? Mau tidak mau kita harus beradaptasi,” ujarnya.

Dirinya menambahkan adaptasi ini harus dilakukan di semua level masyarakat mulai dari individu, regional, hingga nasional.

“Masing-masing level memiliki rasionalitas untuk mengambil keputusan atas tindakan yang akan dilakukan. Seluruh level tersebut harus sinergis dan tidak saling menghambat satu dengan yang lain. Misalnya, adaptasi di tingkat pemerintah tidak menghambat adaptasi oleh individu atau rumah tangga,” pungkasnya. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: BanjirBanjir IndonesiaBanjir JabodetabekBanjir JakartaLIPI
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.