ASIATODAY.ID, JAKARTA – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah mengembangkan ozon untuk disinfektan coronavirus (covid-19).
Pengembangan mengacu anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang tidak merekomendasikan mekanisme penyemprotan alkohol atau klorin ke tubuh manusia.
“Saat ini LIPI sedang mengembangkan alat disinfektan dengan nama ozon nanomist,” terang Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI, Anto Tri Sugiarto dalam konferensi video, Jumat (29/5/2020).
Dikatakan, ozon nanomist sebagai solusi bahan dasar disinfektan nonkimia. Ozon merupakan bentuk lain dari oksigen yang merupakan reaksi oksigen dan sinar ultraviolet dari matahari.
“Ozon banyak ditemui di sekitar kita dan kembali menjadi oksigen secara alami,” terangnya.
Menurut Anto, sejak 1906 Ozon sudah digunakan sebagai bahan dasar disinfektan karena memiliki kemampuan oksidasi yang lebih baik dibandingkan klorin dan hidrogen peroksida.
“Hal ini menjadikan ozon sangat efektif dalam membunuh berbagai jenis mikroorganisme berupa virus, bakteri dan jamur,” jelasnya.
Saat ini ozon banyak digunakan untuk setrilisasi bahan makanan, minuman, peralatan produksi, peralatan medis, air kolam renang dan pengolahan air minum. Bahkan, berbagai negara seperti Vietnam, Italia, juga Arab Saudi, telah menggunakan ozon sebagai bahan disinfektan untuk kasus corona.
“Jika dalam lingkup udara dalam sebuah ruangan, ozon mampu menstrerilisasi udara dan permukaan ruangan tersebut. Hal itu menjadikan ozon juga diperkirakan efektif untuk menangkal penyebaran corona,” jelasnya.
Kemampuan ozon nanomist diyakini juga memiliki kemampuan membunuh bakteri atau virus yang menempel di permukaan. Membunuh virus pada permukaan ini sangat spesifik pada sifat virus corona yang mampu menempel di permukaan benda atau droplet.
“Ozon nanomist ini secara teknis dapat dipakai untuk menggantikan disinfektan kimia di bilik disinfektan dengan potensi resiko lebih rendah selama dipakai mengikuti durasi dan ketentuan,” imbuhnya.
Sejauh ini LIPI baru memasang ozon nanomist pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jakarta, Balai Kesehatan Puspiptek, Kampus LIPI Jakarta, dan beberapa perkantoran lainnya. Alat ini rencananya juga akan digunakan pada fasilitas umum. Seperti Transjakarta, MRT Jakarta dan Commuterline Jakarta.
Meski begitu, ozon nanomist tidak sepenuhnya menjamin seseorang dapat terbebas dari virus di dalam tubuh.
“Upaya pencegahan terbaik tetaplah dengan gaya hidup sehat dan bersih, serta rajin mencuci tangan dan mandi setelah beraktivitas di luar rumah,” tandasnya. (ATN)
