ASIATODAY.ID, SURABAYA – Indonesia kembali melakukan ekspor hasil pertanian ke tiga negara. Kali ini, ekspor dilakukan melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Senin (2/11/2019).
Ekspor melalui Pelabuhan Tanjung Perak ini tercatat memiliki bobot petikemas 110 ton senilai Rp2 miliar. Rincian produknya terdiri dari pupuk organik 54 ton senilai Rp108,6 juta tujuan Singapura, bunga cengkeh 10 ton senilai Rp877,8 juta tujuan Brasil dan biji kopi robusta 46 ton senilai Rp1,02 miliar tujuan Italia.

Saat melepas ekspor komoditas pertanian ini, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kualitas dan terus mendorong peningkatan produksi hasil bumi Nusantara. Hasil panen yang maksimal ini penting untuk bisa mengisi pasar dalam maupun luar negeri.
“Dengan segala kebanggaan saya bersama Gubernur Jawa Timur telah membuktikan ekspor kita memiliki ruang yang cukup bagus untuk menjadi bagian energi ekonomi kita dan memfasilitasi berbagai komoditi yang kita miliki,” ujar Syahrul melalui keterangan tertulisnya, Selasa (3/11/2019).
Mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini mengungkapkan bahwa dirinya bersama Gubernur Jatim berkomitmen mendorong seluruh eksportir bisa terus meningkatkan kapasitas kinerja. Dorongan ini pun masuk dalam target Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Grati-Eks) untuk memanfaatkan potensi teknologi modern.
“Grati-Eks, merupakan ajakan kepada seluruh pemegang kepentingan pembangunan pertanian untuk bekerja dengan cara yang tidak biasa. Bekerja dengan memanfaatkan teknologi, inovasi, jejaring dan kerjasama yang kuat,” ungkapnya.
Mentan yakin dengan penempatan rencana yang baik akan menghasilkan peningkatan ekspor pertanian hingga berlipat ganda. Kreasi dan inovasi perlu terus dikembangkan agar bisa bersaing dengan negara produsen pertanian lainnya.
“Saat ini kita tengah memasuki era kompetisi antar negara yang semakin sengit, kita tidak boleh berhenti berkreasi dan berinovasi. Saya mengajak para pelaku usaha Jawa Timur untuk memberi masukan agar kita mampu menggenjot ekspor, mencapai target kita bersama,” tegasnya.
Lebih lanjut, tingkat penolakan atau Notification of Non Compliance (NNC) yang kecil dari negara tujuan untuk pengiriman barang dari pelabuhan di Jawa Timur merupakan tanda kekompakan telah terjalin. Hal tersebut ditunjukkan dengan maksimalnya proses karantina pertanian ditingkatkan.
“Saya berharap ekspor di Jatim semakin lancar dan tidak terjadi kendala yang membuat urusan ekspor di Jatim terhambat. Tentu saja harapan kita makin lancar di pelabuhan dan tidak terjadi kendala yang membuat kita ribet urusan dengan ekspor dan Jatim menjadi contoh pelabuhan di Indonesia,” imbuhnya.
Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan mobil ekspor yang dimiliki Badan Karantina Pertanian sebagai terobosan akselerasi ekspor akan membantu para produsen sekala menengah bisa terkonsolidasikan. Seluruh persyaratan ekspor akhirnya bisa terkonfirmasi bagi eksportir pemula.
“Makanya proses literasi dan edukasi yang masif akan membuka harapan seperti Pak Menteri sampai tiga kali lipat ekspor,” ujarnya.
Karenanya, mantan Menteri Sosial ini mendorong agar suasana perekonomian di Jatim bisa tumbuh signifikan. Jatim merupakan satu di antara wilayah besar penopang ekonomi nasional yang cukup tinggi.
“Kita harus menjaga suasana stabilitas ekonomi, keamanan terjaga, masyarakat produktif dan saya berharap presiden meningkatkan ekspor dan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya,” tutupnya.
Dalam pelepasan ekspor ini, Syahrul dan Khofifah menyerahkan sertifikat ekspor. Mereka juga melakukan penandatanganan deklarasi ekspor pertanian Jawa Timur tiga kali lipat. (AT Network)
,’;\;\’\’
