• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home GREEN ENERGY

Indonesia Miliki Keunggulan Geothermal untuk Capai Target NZE

by Redaksi Asiatoday
September 14, 2022
in GREEN ENERGY
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Star Energy dan Schlumberger Terapkan Inovasi Mutakhir dalam Pengeboran Panas Bumi

Salah satu proyek pengembangan energi panas bumi yang dikembangkan oleh PT Star Energy Geothermal (SEG) di Indonesia. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia memiliki keunggulan potensi panas bumi (Geothermal) untuk mempercepat transisi energi hijau.

Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Fabby Tumiwa, mengungkapkan panas bumi merupakan elemen penting yang dimiliki Indonesia untuk mencapai target nol emisi bersih (net zero emissions/NZE).

“Dalam rangka mencapai NZE, seluruh potensi energi terbarukan, termasuk panas bumi harus dikembangkan dengan optimal,” katanya dalam keterangannya Rabu (14/9/2022).

RelatedPosts

Cambodia Secures $63 Million ADB-Backed Battery Project to Accelerate Clean Energy Transition

Firmed Solar Undercuts Most of Asia’s Planned Gas, and EVs Can Save Over $300 Billion a Year in Oil Imports

President Prabowo to Launch CATL-Antam Battery Megaproject in July

Ia memandang, wajar pemerintah memberi perhatian serius untuk pengembangan panas bumi. Apalagi pemerintah memiliki peta jalan (roadmap) pengembangan panas bumi hingga mencapai kapasitas 7 Gigawatt (GW) pada 2030.

“Sejak 15 tahun lalu, pengembangan panas bumi selalu jadi prioritas dan berbagai instrumen mitigasi risiko hulu dibuat oleh Kementerian Keuangan,” ujar Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR) ini.

Terlebih saat ini, Indonesia memiliki fasilitas penurunan risiko eksplorasi panas bumi, yaitu Geothermal Resources Risk Management (GREM) yang dikelola oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

Belum lagi pendanaan infrastruktur panas bumi yang juga dikelola PT SMI sebesar Rp3,7 triliun dari APBN dan hibah World Bank.

“Dibandingkan dengan energi baru terbarukan lainnya, upaya memberikan dukungan panas bumi jauh lebih besar,” katanya.

Selain itu, ada pemain besar dan konsisten yang kembangkan panas bumi di Indonesia, salah satunya PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), anak usaha PT Pertamina Power Indonesia, subholding Power and New Renewable Energy Pertamina.

Untuk mencapai NZE pada 2060, seluruh potensi energi baru terbarukan, termasuk panas bumi harus dikembangkan dengan optimal.

“Dalam hal ini prospek bisnis PGE sangat bagus,” ujarnya.

Menurut Fabby, PGE tetap harus didukung agar target yang dicanangkan bisa tercapai. Penguatan PGE lebih pada kemampuan dalam mengelola risiko.

“Tak bisa dipungkiri pengembangan panas bumi tidak beda jauh dengan migas yang memiliki risiko tinggi,” ujarnya.

Dia menyarankan agar PGE mempersingkat waktu pengembangan lapangan panas bumi dan pembiayaan untuk investasi.

“Termasuk bermitra serta mengeksplorasi pemanfaatan listrik panas bumi untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah tinggi, misalnya green hydrogen,” ujarnya.

Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Ahmad Yuniarto, mengatakan risiko dalam pengelolaan proyek panas bumi tidak hanya pada fase eksplorasi.

Ketika memasuki tahapan konstruksi PLTP dan bahkan pada fase operasional lapangan dan PLTP, risiko meningkat.

“Risiko ini terbagi atas surface maupun sub-surface,” ujarnya.

Yuniarto menjelaskan, energi panas bumi diharapkan menjadi pilar utama dalam menyongsong kebutuhan akan EBT di masa datang, termasuk mendukung program NZE dan menjadi pemicu multiplier effect terhadap pengembangan green economy.

Apalagi energi panas bumi merupakan satu-satunya EBT yang bisa mensuplai energi secara kontinu dan dapat dijadikan sebagai beban dasar (baseload power) dalam sistem ketenagalistrikan dengan tingkat ketersediaan (availability factor) yang tinggi.

Saat ini, PGE mengelola 13 WKP dengan kapasitas terpasang PLTP sebesar 1,8GW. Dari jumlah itu, 672 MW dioperasikan dan dikelola langsung PGE dan 1.205 MW dikelola dengan skenario Kontrak Operasi Bersama. (ATN)

Tags: Energi Panas BumiGeothermal
No Result
View All Result

Terbaru

  • ADB Unleashes $100 Million Digital Bond to Power Asia’s Next Economic Revolution
  • Indonesia Tells Global Leaders: Net Zero Means Nothing Without Nature
  • As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes
  • Indonesia Bets on AI to Fix Healthcare Gaps, But Risks Leaving Vulnerable Workers Behind
  • Indonesia Flags Trafficking, Extortion Risks at Singapore-Malaysia Gateway
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.