• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Indonesia, Negara Tujuan Investasi Global Paling Strategis di Asia Tenggara

by Redaksi Asiatoday
March 22, 2021
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Pasca Tsunami, KEK Palu Diguyur Investasi Triliunan

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu, Sulawesi Tengah. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Hasil studi yang diprakarsai oleh Standard Chartered, menunjukkan bahwa Indonesia menjadi salah satu Negara di Asia Tenggara yang paling strategis untuk menjadi tujuan investasi global. Kepercayaan investor ini didukung oleh optimisme kemudahan berinvestasi di Indonesia.

Dalam Survei Borderless Business Studies Standard Chartered, perusahaan Amerika Serikat (AS) dan Eropa menempatkan Indonesia di peringkat keempat se-Asia Tenggara sebagai negara yang paling digemari untuk tujuan investasi.

“Indonesia dianggap sebagai negara yang paling disukai dalam hal peluang membangun atau memperluas sumber daya, penjualan, atau operasi perusahaan selama enam hingga dua belas bulan ke depan,” tulis laporan tersebut dikutip Senin (22/3/2021).

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

Standard Chartered melakukan survei terhadap lebih dari 1.000 Chief Financial Officer (CFO) dan profesional keuangan senior pada perusahaan yang memiliki omzet di atas USD500 juta. Pada studi ini diungkapkan bahwa sebesar 42 persen dari perusahaan AS dan Eropa melihat potensi pertumbuhan terbesar berada di pasar luar negeri.

“Studi ini mengungkapkan, terlepas dari ketidakpastian yang disebabkan oleh pandemi global dan dampak ekonomi yang terkait pandemi, pasar luar negeri tetap menjadi kunci utama pertumbuhan,” lanjut hasil survei.

Studi ini juga mengungkapkan adanya perhatian yang lebih besar pada investasi dalam teknologi digital, penggunaan dana yang tertahan, dan meningkatkan fokus pada masalah lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam kaitannya dengan perdagangan dan rantai pasokan.

Di samping itu, survei mengungkapkan bahwa sebanyak 35 persen korporasi secara menyeluruh dan 43 persen korporasi di AS mengindikasikan soal persyaratan regulasi masih menjadi perhatian nomor satu di antara responden yang ingin berekspansi ke Indonesia.

“Meski para pemimpin telah menyadari keberadaan Undang-Undang Cipta Kerja yang menjanjikan kepastian berusaha,” tutup keterangan dari Standard Chartered.

Kemudahan dan Perbaikan Sistem  

Sementara itu, Pemerintah Indonesia terus mendorong kemudahan berinvestasi melalui perbaikan sistem. Peningkatan keyakinan investor asing dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan optimisme terkait reformasi yang telah dilakukan pemerintah untuk mendukung kemudahan berusaha.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah inisiatif untuk mendorong kemudahan berusaha. Salah satunya adalah melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

“UU Cipta Kerja yang telah lengkap dengan seluruh peraturan pelaksanaannya, akan memberikan kepastian kemudahan berusaha dan memangkas perizinan yang panjang bagi investor sehingga meningkatkan kepercayaan investor,” jelasnya.

Pemerintah akan terus mendorong promosi terkait kemudahan berinvestasi di Indonesia, dengan mengutamakan isu investasi dan pembangunan yang berkelanjutan. Digitalisasi juga akan memiliki peran penting dalam investasi dengan mengedepankan competitive advantage dari peluang investasi di tanah air.

“Selain itu, kehadiran Indonesia Investment Authority (INA) juga membuka peluang investasi terutama terkait proyek infrastruktur untuk menunjang pembangunan Indonesia yang lebih berkelanjutan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, implementasi UU Cipta Kerja dalam kemudahan berusaha akan terus didorong. Pemerintah akan terus meningkatkan teknologi Online Single Submission (OSS) dan digitalisasi yang bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi para pelaku usaha.

Sistem OSS yang terdiri dari sub-sistem informasi, perizinan berusaha dan pengawasan, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan para investor dan harapan dunia usaha. Sistem OSS baru yang berbasis risiko (OSS RBA), diharapkan akan mulai implementasi awal di Juni 2021 dan secara penuh akan go-live di Juli 2021.

“Dengan diterapkannya Sistem OSS akan lebih memudahkan para pelaku usaha dan terutama para pelaku UMKM, melalui sistem pendaftaran yang lebih mudah, tidak berbelit-belit dan bisa dilakukan secara daring,” tandasnya. (ATN)

Tags: Asia BusinessAsia InvestInvestasi GlobalStandard Chartered
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.