• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Industri Penerbangan Global Bergejolak, Lebih 1.000 Pesawat Dikembalikan ke Lessor

by Redaksi Asiatoday
August 8, 2021
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Presiden Jokowi Sahkan Perjanjian Penerbangan Indonesia-Turki

Aktivitas Penerbangan. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Industri penerbangan global sepanjang tahun ini mengalami gejolak akibat pandemi Covid-19.

The International Bureau of Aviation (IBA) melaporkan tahun ini lebih dari 1.000 pesawat akan dikembalikan ke lessor tanpa kejelasan status.

IBA merinci sebanyak 1.300 pesawat, termasuk 200 widebody telah dijadwalkan untuk dikembalikan ke lessor tahun ini. Bahkan penjadwalan pengembalian ini telah dilakukan sejak sebelum pandemi Covid-19.

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

Presiden IBA Phil Seymour mengatakan awalnya sewa sebagian besar pesawat akan diperpanjang namun sayangnya opsi itu tersebut nampaknya sangat tidak mungkin dilakukan dengan adanya pandemi COVID-19 saat ini.

Berdasarkan laporan IBA, pandemi Covid-19 menyebabkan jumlah penumpang pesawat turun drastis.

“Ini mengakibatkan maskapai tidak mampu melanjutkan sewa pesawat dan memilih mengembalikan ke pihak lessor,” ujar Phil dilansir dari Aviator Aero, Minggu (8/8:2021).

Adapun jumlah maskapai yang berencana mengakhiri masa sewa tidak sedikit. Awalnya kebanyakan maskapai tidak melanjutkan sewa karena sedang restrukturisasi. Namun kemudian kondisi memburuk hingga menyebabkan banyak maskapai mengalami kerugian bahkan bangkrut. Hal ini membuat nasib armada-armada pesawat yang dikembalikan ke lessor semakin tak jelas masa depannya

“Ketidakpastian ini mematahkan pola yang selama ini sudah terbentuk. Biasanya ketika keuangan maskapai membaik, maka lessor akan mengirimkan ulang pesawat yang sempat dikembalikan,” tambahnya.

IBA juga memperkirakan bahwa penurunan aktivitas penyewaan pesawat ini akan berdampak negatif pada industri Maintenance, Repair, Overhaul (MRO), atau bengkel pesawat. Jumlah kunjungan ke bengkel pesawat dipastikan bakal menurun.

Sebelum COVID-19, jumlah kunjungan pesawat ke bengkel sempat diperkirakan akan meningkat dari 3.200 pada 2019 menjadi 4.500 kunjungan pada 2023.

“Namun dengan kondisi sekarang, jumlah kunjungan pesawat yang masuk ke bengkel perawatan diperkiaran hanya akan mencapai 1.000 kunjungan tahun ini. Bahkan kondisi ini akan memakan waktu hingga 2026 untuk mencapai tingkat perkiraan awal 2019,” ungkap Phil.

Menurut Phil, kondisi ini akan berdampak pada lessor dan MRO. Kedua industri ini diprediksi akan melakukan pengurangan karyawan dengan cara menawarkan pensiun dini pada staf berpengalaman.

“Ketidakpastian di pasar sewa pesawat komersial beberapa tahun terakhir tiba-tiba diperparah oleh COVID-19, dan kami memperkirakan dampak yang signifikan tidak hanya pada lessor tetapi juga di seluruh ekosistem pasokan– khususnya di sektor MRO,” terangnya.

IBA juga sempat membahas soal kondisi extraordinary yang dialami Boeing 737 MAX. Pesawat jenis ini telah digrounded sejak terjadinya kecelakaan pada Lion Air dan Ethiopia Airlines. Jenis MAX 8 diduga memiliki serangkaian masalah teknis yang perlu ditangani.

Saat diputuskan untuk digrounded, pesawat jenis MAX 8 ini masih tetap diproduksi. Kini pesawat-pesawat tersebut juga harus dikembalikan pada lessor. Secara total, lebih dari 750 pesawat akan dikembalikan ke pihak lessor.

“Sangat penting bagi Boeing untuk mempersiapkan kembali beroperasinya MAX 8 dan memastikan tanpa insiden. Mengingat banyaknya jumlah pesawat yang dikembalikan, kami memperkirakan proses ini akan memakan waktu hingga dua tahun,” pungkasnya. (ATN)

Tags: IBAIndustri PenerbanganThe International Bureau of Aviation
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.