ASIATODAY.ID, JAKARTA – Industri penerbangan Indonesia secara bertahap mulai recovery.
Indonesia National Air Carriers Association (INACA) memproyeksikan kondisi penerbangan mulai membaik dari sisi pergerakan setelah pemerintah merevisi tingkat okupansi maksimal maskapai sebesar 70 persen dibandingkan dengan pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Menurut Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja, aktivitas pergerakan paling nampak terjadi di bandara-bandara utama seperti Bandara Soekarno-Hatta.
Sejauh ini, dengan meningkatnya frekuensi penerbangan sejumlah aktivitas bisnis sudah berangsur membaik. Denon memastikan prosedur bagi penumpang pesawat juga lebih ketat dalam melengkapi sejumlah persyaratan dan prosedur pencegahan covid-19.
“Aktivitas itu terakhir di bawah 5 persen, sekarang sudah 25 persen di bandara utama,” kata Denon, Senin (15/6/2020).
Denon yang juga CEO Whitesky Aviation mengungkapkan, dampak pandemi Covid-19 juga turut memukul bisnis sewa helikopter. Hal ini juga terlihat dari banyaknya helikopter yang terparkir di sejumlah bandara. Jumlah helikopter yang lepas landas dan terbang jauh berkurang di heliport.
Menurutnya, hanya sebagian yang masih beraktivitas itu karena memiliki kontrak jangka panjang dengan perusahaan tambang yang berasal dari Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
“Kami ada beberapa perusahaan yang masih punya long term kontrak sampai 5 tahun ke depan alhamdulillah masih berjalan di perusahaan tambang. Jadi untuk kegiatan support operation dari pertambangan ini masih berjalan,” ucapnya.
Selain itu, pihaknya juga menerima banyak permintaan calon penumpang yang berasal dari rumah sakit (RS) ke sejumlah kota untuk kebutuhan medis.
“Semoga pandemi dapat berakhir pada Agustus 2020, sehingga aktivitas di heliport bergairah kembali,” imbuhnya. (ATN)
