• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Tuesday, July 14, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Inflasi dan Krisis Utang Jadi Tantangan Pemulihan Ekonomi Asia Pasifik di 2024

by Redaksi Asiatoday
May 29, 2023
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Inflasi dan Krisis Utang Jadi Tantangan Pemulihan Ekonomi Asia Pasifik di 2024 1

Laju inflasi. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasific (APEC) melaporkan bahwa tingginya biaya hidup akibat inflasi akan memengaruhi pemulihan ekonomi di kawasan.

Berdasarkan laporan Analisis Tren Regional APEC, ekonomi di Asia Pasific diperkirakan tumbuh di level 2,8 persen pada 2024. Perkiraan ini melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi 2023 yang diproyeksikan mencapai 3,1 persen.

Menurut Direktur Policy Support Unit APEC Carlos Kuriyama, ada sejumlah faktor yang menjadi penghambat pemulihan ekonomi di Asia Pasific pada tahun depan, salah satunya adalah persoalan tingginya biaya hidup.

RelatedPosts

California Seeks Strategic Partnership with Indonesia

FBI Joins Indonesia Corruption Probe as Gold and Millions in Cash Raise Global Scrutiny

Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert

“Biaya hidup yang lebih tinggi menghambat kemampuan kami untuk mendorong pemulihan ekonomi yang stabil pascapandemi,” tutur Kuriyama dalam pernyataan resmi yang dikutip dari laman resmi APEC, Senin (29/5/2023).

APEC memandang penyempitan ruang fiskal dan melonjaknya utang karena pemmberian stimulus besar-besaran yang ditempuh oleh negara anggota APEC selama pandemi Covid-19 melanda hampir seluruh negara di dunia.

“Tingkat pendapatan belum pulih ke tingkat prapandemi di sebagian besar ekonomi APEC, dan ketidaksetaraan telah meluas, yang paling parah memukul populasi yang paling rentan,” ujarnya.

Laporan tersebut juga menyebutkan utang bruto pemerintah secara umum mencapai tingkat tertinggi pada 2022, atau melonjak menjadi 112 persen dari PDB untuk negara maju. Sementara itu, utang bruto mencapai 65 persen dari PDB untuk kawasan APEC.

APEC juga menyoroti gangguan penawaran dan permintaan karena efek gabungan dari masalah geopolitik. Tingkat inflasi di Asia Pasific tercatat sebesar 5,9 persen pada 2022, naik dari 2,9 persen tahun 2021 dan diproyeksikan moderat menjadi 4,4 persen tahun ini.

Sebagai catatan, APEC merupakan forum kerja sama ekonomi yang didirikan di Canberra, Australia pada November 1989. Saat ini, APEC memiliki 21 anggota, di antaranya Indonesia, Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chili, China, Amerika Serikat, Malaysia, dan Meksiko. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: APEC
No Result
View All Result

Terbaru

  • California Seeks Strategic Partnership with Indonesia
  • Indonesia’s Geothermal Future Put to the Test in NTT
  • FBI Joins Indonesia Corruption Probe as Gold and Millions in Cash Raise Global Scrutiny
  • Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert
  • Global Waste-to-Energy Giants Enter Indonesia’s Green Infrastructure Race
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.