• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Investasi China di Australia Turun 58 Persen, Terendah Sejak 2007

by Redaksi Asiatoday
June 9, 2020
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Investasi China di Australia Turun 58 Persen, Terendah Sejak 2007

China dan Australia. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Hubungan yang tengah memanas antara China dan Australia berdampak terhadap pergerakan investasi.

Pasalnya, nilai investasi China ke Australia anjlok 58,4 persen ke level terendah sejak 2007, senilai USD2,39 miliar (A$3,4 miliar).

Laporan dari KPMG dan University of Sydney bertajuk The Demystifying Chinese Investment in Australia menunjukkan jumlah perjanjian investasi China di Australia turun 43 persen menjadi 42 pada tahun 2019 dari sebelumnya 74 perjanjian pada 2018.

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

Salah satu perjanjian yang ditandatangani, akuisisi Bellamy’s Australia Ltd oleh Mengniu Dairy Co. Sebesar A$1,5 miliar mencakup 43,7 persen dari keseluruhan perjanjian di tahun 2019. Sektor makanan dan agrikultur mendominasi proporsi investasi pada 2019 dengan 44 persen atau A$1,53 miliar.

Sementara itu, sektor properti berkontribusi sebesar 43 persen dari nilai keseluruhan investasi China di Australia sebesar A$1,48 miliar.

Munculnya laporan ini semakin memperlihatkan adanya kerengganan hubungan diplomatik antara China dengan Negeri Kangguru tersebut. Pada Jumat lalu, pemerintah Australia mengumumkan kebijakan untuk memperketat persyaratan investor asing yang hendak membeli aset-aset sensitif seperti telekomunikasi, energi, teknologi, dan teknologi pertahanan.

Head of Asia KPMG Australia Doug Ferguson menyatakan penurunan nilai investasi salah satunya disebabkan oleh pengetatan regulasi oleh pemerintah China dalam perjanjian internasional. Selain itu, badan usaha milik negara China juga mengurangi investasi di negara maju dan lebih memilih menanamkan modal di negara berkembang.

Di sisi lain, China juga memandang negatif pengetatan regulasi yang dilakukan pemerintah Australia.

“Perusahaan asal China telah menanamkan modal lebih dari USD107 miliar di Australia sejak 2008 dan turut berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi negara itu. Namun, jumlah investasi mulai melambat dan kemungkinan tren ini akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan,” jelasnya, dilansir Bloomberg, Selasa (9/6/2020).

Langkah pengetatan yang dilakukan Australia kian memperburuk hubungan kedua negara tersebut. Beberapa waktu lalu, Perdana Menteri Australia Scott Morrison meminta adanya komite independen untuk menyelidiki asal usul virus Corona di Wuhan yang membuat China marah.

Sementara itu, pemerintah Australia juga telah menetapkan tarif baru terhadap tanaman jelai dan pelarangan impor daging dari sejumlah pabrik yang menimbulkan kekhawatiran di Canberra bahwa China akan melakukan tindakan balasan.

Pada Sabtu lalu, pemerintah China memperingatkan warganya untuk tidak bepergian ke Australia. Pemerintah beralasan Australia merupakan tempat yang tidak aman karena adanya diskriminasi dan tindak kekerasan terhadap warga asal China dan orang Asia. (ATN)

Tags: Asia PasifikAustraliaChina
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.